EkonomiHeadlineRagam

Inflasi Tahunan Kaltim September 2022 Tembus 5,69 Persen: Dipicu Kenaikan Harga BBM

Loading

Inflasi tahunan Kaltim September 2022 tembus 5,69 persen, tertinggi sejak 2020. Inflasi ini dipicu oleh kenaikan harga BBM yang berdampak akan kenaikan komoditas transportasi.

Akurasi.id, Samarinda – Pada September 2022, Kalimantan Timur (Kaltim) kembali mengalami inflasi, setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi. Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim pada September 2022 tercatat inflasi sebesar 0,85% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,26% (mtm).

Capaian ini membuat inflasi tahunan Kaltim pada September 2022 meningkat sebesar 5,69% (yoy). Meskipun, inflasi ini tercatat lebih rendah dibandingkan capaian nasional yang berada pada 5,95% (yoy).

Berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi pada bulan ini utamanya bersumber dari peningkatan harga pada kelompok transportasi. Di mana, penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang merupakan dampak dari meningkatnya biaya energi global merupakan kontributor inflasi pada kelompok transportasi.

Jasa SMK3 dan ISO

“Komoditas utama yang mendorong inflasi kelompok transportasi hingga 8,12% (mtm) adalah bensin dan angkutan dalam kota. Adapun, penyesuaian harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah. Merupakan langkah alih subsidi serta bertujuan untuk menjaga kesehatan fiskal negara,” terang Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Ricky Perdana Gozhali dalam keterangan tertulisnya, Senin (3/9/2022).

Penurunan Harga Pangan Tekan Laju Inflasi Kaltim

Namun demikian, Ricky juga menyampaikan, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang masih mengalami penurunan. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,73% (mtm).

Penurunan harga utamanya terjadi pada komoditas berupa bawang merah, cabai rawit, ikan layang, tomat, dan minyak goreng. Deflasi pada kelompok pangan tersebut didorong oleh momen panen komoditas hortikultura yang masih berlangsung pada beberapa wilayah sentra produksi. Di tengah mulai melandainya harga CPO sebagai bahan baku utama minyak goreng.

“Menyikapi kondisi tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus berupaya melakukan optimalisasi pengendalian inflasi. Untuk mengantisipasi dampak penyesuaian harga energi terhadap komoditas pangan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP),” kata dia.

Sebagai informsi,  TPID Kaltim dan Kota Samarinda telah melaksanakan launching GNPIP. Meliputi beberapa program unggulan pengendalian inflasi seperti gerakan urban farming (menanam 7.700 bibit cabai).

Gelar pasar murah dan operasi pasar, kerjasama dengan daerah sumber komoditas pangan utamanya beras. Selain itu, digitalisasi pemasaran dan pembayaran komoditas inflasi serta koordinasi insentif fiskal.

“Segenap upaya TPID wilayah Kaltim lakukan, melalui sinergi dan dukungan seluruh pihak. Agar daya beli masyarakat terjaga sehingga mendukung momentum pemulihan ekonomi Kaltim,” pungkasnya. (*)

Penulis/Editor: Devi Nila Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Back to top button