Warga Bontang Patut Waspada!!! Kasus DBD Mulai Mengintai, Tiga Nyawa Melayang

![]()

Akurasi.id, Bontang – Kasus demam berdarah dengue (DBD) patutnya diwaspadai masyarakat Kota Bontang. Sebagai daerah endemik, penyebaran penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti tersebut relatif lebih mudah di Kota Taman –sebutan Bontang.
Data Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang mencatata, angka kasus DBD sepanjang 2019 mencapai 547 penderita. Bahkan sebanyak tiga orang dilaporkan meninggal setelah mengidap penyakit demam berdarah. Sehingga masyarakat patut waspada sejak dini terhadap penyebaran penyakit tersebut.
Penanganan melalui cara fogging maupun penyebaran abate dinilai tidak begitu efektif. Solusi lain yang sedang coba diambil Diskes Bontang untuk meredam penyakit itu, yakni dengan mencoba metode wolbachia. Cara itu merupakan upaya pemberantasan DBD dengan menginfeksi nyamuk aedes aegepty dengan bakteri wolbachia, sehingga nyamuk tidak lagi menularkan virus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P3) Diskes Bontang, Diana Nurhayati mengatakan, penanganan DBD melalui metode wolbachia pada dasarnya tetap dengan pengendalian fisik dan kimia. Namun untuk saat ini, metode tersebut masih sedang didalami. “Semoga bisa mengendalikan DBD melalui wolbachia,” ucapnya belum lama ini.
Untuk diketahui, metode wolbachia menyuntikkan kimia kepada nyamuk agar menjadi madul dengan sistem tertentu. Pendalaman atas metode tersebut kini sedang dipelajari terus oleh Diskes Bontang. Narasumber ahli di bidang kesehatan akan didatangkan dari Yogyakarta dan Semarang. “Nanti akan disosialisasikan ke masyarakat penanganan DBD dengan metode wolbachia,” katanya.
Masih merujuk data Diskses Bontang, korban meninggal akibat DBD pada Maret 2019 sebanyak satu orang. Kemudian pada awal Agustus 2019 ini sebanyak dua orang. Semaksimal mungkin, Diskes Bontang tidak ingin mengulang kasus DBD pada 2016 yang menelan korban hingga 11 orang.
“Laporan kasus DBD hampir setiap hari ada. Yang dirawat di rumah sakit ada 1-3 orang, makanya kami terus memantau perkembangannya,” tutur Diana.
Pastikan Penentuan Demam Anak Tepat
Keterlambatan penangganan terhadap korban demam dapat berakibat fatal, meninggal dunia. Seperti kasus kematian dua orang penderita DBD pada awal Agustus 2019 ini. Tidak akuratnya informasi saat penentuan awal demam anak membuat penangganan oleh dokter pun menjadi lambat.
Ada banyak faktor yang melatarbelakangi hal itu. salah satunya, karena masih banyak orang tua yang tidak memahami bagaimana gejala penyakit demam berdarah yang menyerang anak-anak mereka. Akibatnya, setidak sedikit orang yang menganggap penyakit demam berdarah pada anaknya sebagai demam biasa.
Diana berujar, semestinya, ketika orang tua mendapati anaknya mengalami demam lebih dari satu hari, maka anak harus langsung dibawa ke puskesmas terdekat atau dirujuk ke rumah sakit. “Di setiap rumah sakit sudah terdapat alat pendeteksi langsung DBD tanpa cek darah,” kata dia.
Biasanya, ketika anak bayi terkena demam, maka kondisi fisiknya akan lemas. Sementara anak usia 7-8 tahun, ketika awal demam, anak biasanya masih sibuk bermain dan tidak memperlihatkan bahwa dia sedang sakit. “Ini yang kadang menipu orang tua. Kami orang kesehatan juga tertipu dengan kondisi anak,” tuturnya.
DBD itu seperti pelanak kuda. Pada hari pertama dan kedua, demam tinggi. Hari keempat demamnya turun. Tetapi di situ biasanya adalah masa kritisnya. Pada hari kelima, demamnya naik lagi dan langsung drop. Hal ini yang harus diwaspadai.
“Masa kerja virus itu 5 hari, bisa menyebabkan meninggal dunia. Seperti korban anak sekolah kemarin, sudah pendarahan, tapi dia masih bermain minta jajan, tiba-tiba langsung shock,” bebernya.
Penampakan virus DBD yang menyerangnya pun tak terlihat lantaran tubuh anak yang gempal atau gemuk. Malamnya langsung turun trombositnya menjadi 45 ribu. Sehingga dalam tubuhnya terjadi pendarahan seperti banjir darah dan tak bisa ditolong lagi.
“Banyak orang tua yang tertipu melihat kondisi anaknya yang tampak sehat. Saat diperiksa dokter anak langsung minta masukkan di PICU meski trombositnya masih 100 ribu. Para orang tua harus lebih peka ketika anak terserang demam,” imbuhnya. (*)
Penulis: Ayu Salsabila
Editor: Yusuf Arafah









