By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • Anews
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
  • Ragam
  • Etalase
  • Infografis
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Follow US
> Blog > Ragam > Catatan > Surat
Catatan

Surat

akurasi 2019
Last updated: Agustus 27, 2019 8:40 pm
By
akurasi 2019
Share
4 Min Read
Surat
Buku ini memuat surat Imam Ali bin Abi Thalib kepada anaknya. (Ufqil Mubin/Akurasi.id)
SHARE
Surat
Buku ini memuat surat Imam Ali bin Abi Thalib kepada anaknya. (Ufqil Mubin/Akurasi.id)

Ditulis oleh: Ufqil Mubin

27 Agustus 2019

Sudah dua bulan saya membaca surat Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Surat itu dibuat untuk Sayyidina Hasan bin Ali. Surat itu diurai (syarah) oleh Zainal Abidin Qurbani Lahiji. Judulnya Ali’s First Treatise on The Islamic Ethics and Education. Saya membaca terjemahannya. Dijermahkan oleh Ali Yahya. Penerjemah memberi judul buku ini Risalah Sang Imam, Ajaran Etika Ali bin Abi Thalib.

Buku ini diberikan seorang senior kepada saya. Dua bulan yang lalu. Sebagai pecinta buku, tentu saja saya sangat senang dengan pemberian itu. Setelah membacanya, saya harus mempertanggungjawabkan nilai-nilai yang terkandung dalam buku ini. Ini beban yang begitu berat. Terlebih saya belum memiliki kemampuan yang memadai untuk memikul nilai-nilai yang diajarkan Imam Ali.

Kabarnya, surat ini ditulis Imam Ali saat beliau berusia 60 tahun. Sementara Sayyidina Hasan masih berusia muda. Beberapa riwayat menyebut, keduanya berbeda usia sekira 17 tahun. Artinya, ketika surat itu ditulis khalifah yang dibunuh Ibnu Muljam itu, Sayyidina Hasan sudah berusia 43 tahun. Ini hanya tafsiran saya. Bisa salah. Mungkin juga benar. Poinnya, surat ini ditulis pada saat Imam Ali telah memiliki pengalaman yang sempurna terhadap kehidupan dunia. Beliau telah melewati masa-masa sulit, peperangan, kepahitan dunia, juga pemahaman yang sempurna tentang “tipu daya dunia”.

Barangkali karena dua alasan penting, saya tidak akan menjelaskan isi buku ini. Pertama, saya merasa tidak layak untuk mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Imam Ali dalam surat itu memuat ajaran etika, baik dari aspek ibadah mahdoh, hubungan sosial, maupun relasi manusia dengan Allah. Sebagai pemuda yang akan menginjam usia kepala tiga, saya merasa belum mampu mengemban amanah dalam buku ini. Selama dua bulan hilir mudik membaca buku ini, mungkin sudah tiga kali saya membaca berulang-ulang, seluruh nilai yang terkandung dari ucapan Imam Ali tak kunjung dapat saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, surat dari menantu Nabi Muhammad Saw itu tak mudah untuk dijelaskan dan dipahami. Saya memiliki ilmu dalam tingkatan yang begitu rendah. Belum bisa disebut secuil dari seluruh khasanah ilmu pengetahuan. Sementara ucapan Imam Ali mengandung nilai-nilai universal yang memerlukan pondasi ruhani, pemahaman tentang mantiq,  tata bahasa Arab, kehidupan sosial yang teruji atau lazim disebut akhlak, dan dasar-dasar keilmuan lain yang memungkinkan saya dapat mengutip atau membahas ucapan-ucapan Imam Ali yang terkandung dalam surat tersebut.

Saya menulis ini hanya sebagai bentuk kekaguman saya pada kalimat-kalimat yang dilontarkan Imam Ali. Saya telah membaca sebagian kalimat para pujangga dan penyair di dalam negeri dan mancanegara. Penilaian saya–mungkin ini subyektif–tak ada satu pun yang dapat menandingi ucapan beliau. Hal yang paling prinsipil dari ucapan Imam Ali adalah kemampuan beliau merangkum nilai-nilai universal dalam kalimat singkat.

Saya pernah bertanya kepada seorang guru. Kira-kira begini pertanyaannya, “Mengapa ucapan Imam Ali begitu rumit untuk dipahami dibanding ucapan Nabi Muhammad?” Beliau menjawabnya dengan sangat indah. Ucapan Nabi Muhammad memuat ajaran yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Siapa saja yang mendengarkan ucapan beliau, maka akan dengan mudah memahaminya. Sementara kalimat-kalimat Imam Ali hanya dapat dipahami oleh kalangan tertentu. Kata guru saya, “Kelompok terpelajar”. Orang-orang yang memiliki ilmu yang memadai dalam bidang logika dan tata bahasa. Tetapi dua manusia agung ini mempunyai kesamaan dalam ucapannya. Mereka berbicara untuk manusia di semua zaman. (*)

TAGGED:catatanUfqil Mubin
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Denada Minta Maaf ke Iwa K dan Teuku Ryan, Tegaskan Bukan Ayah Kandung Ressa Rizky

Akurasi.id - Penyanyi dan aktris Denada akhirnya angkat bicara mengenai spekulasi publik…

Jelang Menikah dengan El Rumi, Syifa Hadju Gelar Bridal Lunch Bersama Bridesmaids

Akurasi.id - Aktris muda Syifa Hadju menggelar acara bridal lunch bersama para…

Harga Emas Antam Sepekan Naik Rp29.000, Kini Tembus Rp2,86 Juta per Gram

Akurasi.id - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Autobiografi Andri (4): Derita dan Air Mata Sebelum Belajar di Gontor
Catatan

Autobiografi Andri (4): Derita dan Air Mata Sebelum Belajar di Gontor

By
akurasi 2019
Sisi Lain Kecelakaan Muara Rapak - Akurasi.id
CatatanRagam

Sisi Lain Kecelakaan Muara Rapak: Selamat dari Maut karena Sedekah

By
Devi Nila Sari
Katolik dan Pancasila
Catatan

Katolik dan Pancasila

By
akurasi 2019
Menerabas Keterisolasian Jalan Kampung Timur Kanaan Dalam Semangat Gotong Royong TMMD Ke-120
CatatanCovered StoryHeadlineRagam

Menerabas Keterisolasian Jalan Kampung Timur Kanaan Dalam Semangat Gotong Royong TMMD Ke-120

By
Fajri
Akurasi.id adalah tagline dari suku kata Aktual dan Menginspirasi. Dua kata itu dipilih bukan tanpa alasan. Kami menyadari perkembangan teknologi informasi memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Khususnya, berbagai informasi yang disajikan media daring.

Tuntutan kecepatan informasi acap membuat pelaku media daring melupakan kedalaman dan ketajaman berita yang disajikan di publik. Tak pelak, informasi yang disuguhkan sangat dangkal. Seolah hanya memenuhi dahaga pembaca. Tidak menyajikan analisa dan intisari informasi.
  • Kategori Populer:
  • Trending
  • Uncategorized
  • Headline
  • Kabar Politik
  • Peristiwa
  • News
  • Birokrasi
  • Hukum & Kriminal
  • Covid-19
  • Ragam
About Company
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© Copyright Akurasi.id 2019 – 2025, All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?