Jadi ‘Dokter Bedah’ Panci, Cara Agus Adu Nasib di Kota Taman Selama Pandemi

![]()

Akurasi.id, Bontang – “Ibu-ibu… tambal panci, tambal dandang… ganti sarangan, ganti kupingan panci… ibu-ibu tambal panci yang bocor, tambal dandang yang bocor…”
Suara perempuan nyaring terdengar di ujung megafon. Kabelnya terhubung dengan ponsel jadul. Alat berbentuk corong itu direkatkan pada sisi kanan boks kayu yang dipasang pada jok motor bebek keluaran 2000-an silam. Di sisi lainnya, gulungan lembar alumunium sengaja digantungnya. Tak peduli panas terik, Agus Purwanto (49) menyusuri jalanan Kota Taman -sebutan Bontang- dengan boks kayu penuh peralatan. Mulai dari paron, palu, tang, gunting seng, meteran, hingga press roll seng.
baca juga: Angker!!! Terpelesat di Atas Kapal, Remaja Gunung Lingai Hilang Ditelan Sungai Mahakam
Dokter bedah panci, itulah sebutan yang melekat pada pria yang karib disapa Agus ini. Sekira 1 bulan ini dia beralih profesi sebagai tukang servis panci keliling. Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang juga melanda Bontang rupanya juga berdampak pada usaha penatu (laundry) yang dijalankan bersama sang adik di kompleks perumahan BTN-PKT. Tak ingin menjadi beban adik karena penatu sepi, Agus memutuskan untuk melakukan pekerjaan lain.
“Gara-gara corona Mbak, jadi beralih pekerjaan karena laundry sepi,” kata dia saat ditemui Akurasi.id belum lama ini di Jalan Pangeran Suryanata eks Jalan Sendawar.

Mengadu nasib di tanah rantau selama 15 bulan terakhir, Agus rela meninggalkan istri, kedua anaknya yang sudah dewasa, serta menantu dan cucunya di tanah Kota Santri Jombang, Jawa Timur. Sebab, ajakan adik untuk membantu usaha penatu bagi Agus penghasilannya cukup menggiurkan. Ditambah melihat sang adik yang cukup sukses di Bontang.
Tak hanya meninggalkan keluarga, rupanya Agus juga meninggalkan profesinya sebagai dokter bedah panci yang cukup lama dilakoninya. Diakui Agus, dirinya sudah menjadi tukang servis panci sejak 1992.
“Saya ingat usaha ini dimulai setelah saya nikah 28 tahun lalu. Saya masih berusia 21 tahun,” akunya.
Bagi Agus, di Bontang jarang ada yang berprofesi sama dengannya. Berbeda dengan daerah asalnya. Kata Agus, di sana banyak pesaingnya. Ditambah, ongkos memperbaiki panci sangat murah. Untuk ukuran panci kecil dihargai sekira Rp20 ribu dan yang paling besar Rp60 ribu. Lain lagi di Bontang, ukuran panci paling besar ongkos servisnya sekira Rp130 ribu.
“Harga servis tergantung besar kecilnya panci. Bukan dari tingkat kesulitannya. Kalau perbaiki yang kecil 30 menit selesai. Kalau yang besar 1 jam,” beber pria bertubuh kurus ini.

Dalam sehari, Agus yang berkeliling Bontang dari pagi hingga sore mengaku terkadang sepi pelanggan. Meski sepi, namun ada saja pemasukan yang diperolehnya meski sedikit. Tak hanya berkeliling, Agus juga menerima servis panggilan. Dia juga mencantumkan nomor ponselnya 085762205244 pada boks motornya.
Suka duka menjalani profesi tersebut, dia mengaku senang jika berkeliling ada yang memanggilnya untuk memperbaiki panci. Sembari menunggu panci pelanggan ‘diobati’, satu per satu orang sekitar yang melihat Agus memperbaiki panci lalu datang.
“Menurut saya ini pekerjaan yang bikin awet muda, karena dikerumunin ibu-ibu jadi ikut ngobrol. Dukanya kalau tidak hati-hati, tangan kadang terluka saat memperbaiki panci,” pungkasnya. (*)
Penulis/Editor: Suci Surya Dewi









