By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • News
  • News & Perspective
  • Hukum & Kriminal
  • Etalase
  • Infografis
  • Ragam
  • Pariwara
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • News
  • News & Perspective
  • Hukum & Kriminal
  • Etalase
  • Infografis
  • Ragam
  • Pariwara
Follow US
> Ragam > Kesehatan > Cacar Monyet Menular via Hubungan Seks, WHO Peringatkan Komunitas LGBT
HeadlineKesehatan

Cacar Monyet Menular via Hubungan Seks, WHO Peringatkan Komunitas LGBT

akurasi 2019
Last updated: Mei 28, 2022 1:31 pm
By
akurasi 2019
Share
4 Min Read
Cacar Monyet Menular via Hubungan Seks, WHO Peringatkan Komunitas LGBT
WHO mengimbau masyarakat tak panik hadapi kasus cacar monyet yang mereka sebut sebagai puncak gunung es. (CNBCIndonesia.com)
SHARE

WHO menjelaskan penyakit cacar monyet menular via hubungan seks. Karena cacar monyet menular ini WHO ingatkan Komunitas LGBT.

Akurasi.id, Jakarta – Cacar monyet alias monkeypox tengah jadi perhatian global. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun mewanti-wanti komunitas LGBT untuk waspada sebab virus bisa menular lewat hubungan seks.

Baru-baru ini terdapat temuan kasus cacar monyet pada pasien yang teridentifikasi sebagai kaum LGBT.

“Beberapa kasus telah teridentifikasi melalui klinik kesehatan seksual di komunitas gay, biseksual dan laki-laki lain yang berhubungan seks dengan laki-laki,” bunyi pernyataan imbauan WHO untuk komunitas LGBT.

WHO menambahkan kaum transgender dan gender-diverse juga bisa rentan terkena wabah ini.

Meski demikian, bukan berarti mereka yang non-LGBT serta merta bebas dari penularan cacar monyet. WHO menegaskan siapa pun bisa berisiko tertular ketika kontak dekat dengan orang yang terinfeksi.

Sementara itu, cacar monyet sedang meluas di negara-negara Eropa. Padahal virus monkeypox tak biasa di wilayah ini.

Cacar monyet bisa menyebar lewat kontak dari kulit-ke-kulit termasuk lewat hubungan seks. Virus menular lewat sentuhan, ciuman, seks oral, dan penetrasi dengan orang yang memiliki gejala.

Begitu terinfeksi, akan timbul gejala seperti ruam dengan lepuh di wajah, tangan, kaki, mata, mulut dan atau alat kelamin, demam, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kepala, nyeri otot, dan lemah.

WHO memperingatkan agar temuan ini tidak memicu stigma negatif terhadap komunitas LGBT.

“Siapa pun bisa mendapatkan atau menularkan cacar monyet, terlepas dari seksualitas mereka,” tutup WHO.

[irp]

WHO Imbau Masyarakat Tak Panik Hadapi Kasus Cacar Monyet

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau masyarakat untuk tidak panik menyikapi kasus cacar monyet di dunia. Ia mengatakan sekarang masih dalam tahap awal dan menyadari sesungguhnya kasus akan terus bertambah.

“Kami tahu bahwa akan memilik lebih banyak kasus dalam beberapa hari mendatang, tapi tidak perlu panik,” kata Sylvie Briand selaku kepala kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO.

Hal tersebut ia sampaikan kepada perwakilan negara-negara anggota yang menghadiri Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa, seperti mengutip AFP pada Jumat (27/5).

“Itu bukan penyakit yang harus masyarakat umum khawatirkan. Itu bukan Covid atau penyakit lain yang menyebar dengan cepat,” Briand menegaskan.

Kendati demikian, ia secara bersamaan juga memperingatkan bahwa sekitar 200 kasus cacar monyet yang teridentifikasi dalam beberapa pekan terakhir, di luar negara-negara virus biasanya beredar, bisa jadi hanyalah permulaan.

“Kami tidak tahu apakah kami hanya melihat ini sebagai puncak gunung es,” tutur Sylvie Briand.

Kasus cacar monyet ini pertama kali dilaporkan Inggris pada 7 Mei. Kemudian, hampir 200 kasus telah dilaporkan ke badan kesehatan PBB di kawasan yang jauh dari negara bagian di mana virus itu endemi, yakni Afrika barat dan tengah.

Kasus cacar monyet tiba-tiba terdeteksi di lebih dari 20 negara lain di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Australia, Uni Emirat Arab, dan hampir selusin negara Uni Eropa.

Pada Jumat (27/5), Kementerian kesehatan Spanyol mengatakan telah mengonfirmasi 98 kasus cacar monyet. Sedangkan Inggris saat ini menghitung 90 infeksi yang diverifikasi.

Sementara itu, Portugal telah mendaftarkan 74 kasus yang dikonfirmasi. Otoritas kesehatan mengatakan semua kasus terjadi pada pria, terutama berusia di bawah 40 tahun.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) telah mencatat 219 kasus cacar monyet.(*)

Sumber: CNNIndonesia.com
Editor: Redaksi Akurasi.id

TAGGED:Cacar MonyetkesehatanLGBTWHO
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Cara Memilih TWS Murah Berkualitas Tanpa Menguras Kantong

Akurasi.id - Gaya hidup modern yang serba cepat membuat perangkat audio nirkabel…

Syarat Lengkap Pembuatan SKCK 2026, Simak Dokumen yang Harus Disiapkan

Akurasi.id - Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) merupakan dokumen resmi yang diterbitkan…

Cara Melaporkan Kejahatan Siber: Panduan Lengkap bagi Korban Penipuan dan Peretasan Online

Akurasi.id - Kehadiran ruang digital yang kian masif sayangnya juga dibarengi dengan…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

si kecil tantrum
Kesehatan

4 Kiat Jitu Mencegah Si Kecil Tantrum di Tempat Umum

By
akurasi 2019
Dirty Vote: Film yang Memantik Reaksi Global
HeadlineTrending

Dirty Vote: Film yang Memantik Reaksi Global

By
akurasi 2019
Serikat Buruh Kaltim Tolak Peraturan JHT - Akurasi.id
HeadlineTrending

Serikat Buruh Kaltim Tolak Peraturan JHT, Sebut Pemerintah Tak Peduli Nasib Buruh

By
Devi Nila Sari
Momen Pesawat Cessna Bawa Pesan "TNI Prima, Indonesia Maju" Warnai Langit Monas Saat HUT ke-79 TNI
HeadlinePeristiwa

Momen Pesawat Cessna Bawa Pesan “TNI Prima, Indonesia Maju” Warnai Langit Monas Saat HUT ke-79 TNI

By
Wili Wili
Akurasi.id adalah tagline dari suku kata Aktual dan Menginspirasi. Dua kata itu dipilih bukan tanpa alasan. Kami menyadari perkembangan teknologi informasi memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Khususnya, berbagai informasi yang disajikan media daring.

Tuntutan kecepatan informasi acap membuat pelaku media daring melupakan kedalaman dan ketajaman berita yang disajikan di publik. Tak pelak, informasi yang disuguhkan sangat dangkal. Seolah hanya memenuhi dahaga pembaca. Tidak menyajikan analisa dan intisari informasi.
  • Kategori Populer:
  • Trending
  • Uncategorized
  • Headline
  • Kabar Politik
  • Peristiwa
  • News
  • Birokrasi
  • Hukum & Kriminal
  • Covid-19
  • Ragam
About Company
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Kami
© Copyright Akurasi.id 2019 – 2025, All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?