By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • Anews
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
  • Ragam
  • Etalase
  • Infografis
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Follow US
> Blog > Covered Story > “Perselingkuhan” Elite Politik dalam Bisnis Batu Bara
Covered Story

“Perselingkuhan” Elite Politik dalam Bisnis Batu Bara

akurasi 2019
Last updated: Februari 4, 2019 7:25 am
By
akurasi 2019
Share
5 Min Read
“Perselingkuhan” Elite Politik dalam Bisnis Batu Bara
SHARE

“Perselingkuhan” Elite Politik dalam Bisnis Batu Bara

Akurasi.Id – Sektor pertambangan batu bara diduga menjadi komoditas politik dan sumber pendanaan kampanye politik di Indonesia selama 20 tahun terakhir. Baik di tingkat nasional maupun daerah. Keterkaitan yang erat dengan kebijakan dan regulasi pemerintah, royalti, pajak, serta infrastruktur pemerintah, mendorong sektor ini terpapar korupsi politik.

Hal ini disampaikan dalam sebuah laporan terbaru yang dikeluarkan oleh Greenpeace, Auriga, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), dan Indonesia Corruption Watch (ICW), Selasa (18/12) lalu di Jakarta.

Laporan yang bertajuk “Coalruption: Elite Politik dalam Pusaran Bisnis Batu Bara” ini mengungkap peran elite politik atau politically exposed persons menyatukan kepentingan bisnis dan politik di sektor pertambangan batu bara.

Kepala Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Tata Mustasya mengatakan, terdapat elite politik dengan konflik kepentingan yang besar di bisnis batu bara.

Dia mencontohkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yang membawahi sektor pertambangan dan energi. Dia merupakan pemegang saham PT Toba Sejahtera. Perusahaan ini memiliki sejumlah anak perusahaan yang terlibat dalam pertambangan batu bara dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Kata dia, beberapa politically-exposed persons lainnya terhubung dengan kelompok bisnis tersebut. Termasuk anggota keluarga Luhut, mantan menteri, pejabat tinggi dan pensiunan jenderal.

“Elite nasional bersekongkol dengan elite daerah dalam bisnis batu bara. Ini merupakan lanskap baru di mana desentralisasi membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih politis dan meningkatkan kekuasaan diskresioner para pejabat daerah. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya korupsi,” kata Tata Mustasya.

Dia mengurai beberapa faktor yang meningkatkan risiko korupsi dalam setiap tahap pertambangan. Kelemahan dalam sistem  pencegahan korupsi, juga pada aspek yudisial secara umum menurunkan kemampuan pemerintah mendeteksi, mencegah dan menghukum koruptor di bidang pertambangan.

Proses pengambilan  keputusan  yang  dipolitisasi dan  kekuasaan  diskresioner yang dipegang pejabat negara tak kalah penting meningkatkan risiko terjadinya korupsi.

“Faktor lainnya adalah tata kelola dalam sektor pertambangan yang tidak memiliki pembagian peran dan tanggung  jawab yang jelas,” katanya.

Perwakilan ICW, Firdaus Ilyas menyatakan, buruknya pengawasan menjadikan pengelolaan batu bara rentan dikorupsi. Lemahnya penegakan hukum membuat bisnis batu bara menjadi “bancakan” oknum pengusaha dan penguasa.

“Dari sisi ekonomi penerimaan negara dari batu bara tidaklah seberapa dibandingkan dampak lingkungan dan kepentingan generasi mendatang. Oleh sebab itu, sudah saatnya kita melepaskan diri dari ketergantungan pada batu bara,” imbuhnya.

“Perselingkuhan” Elite Politik dalam Bisnis Batu Bara

Pertambangan Merusak Lingkungan

Koordinator Jatam, Merah Johansyah mengatakan, melalui korupsi politik di bidang sumber daya alam, pemilu hanya menjadi ajang merebut kuasa dan jabatan serta menumpuk kekayaan.

Pesta demokrasi lima tahunan ini juga menjadi kesempatan bagi para pengusaha batu bara melakukan praktik ijon politik untuk mendapatkan jaminan politik demi melanggengkan usaha di daerah. Apalagi politisi dan sekaligus pengusaha batu bara berada di kedua kubu kandidat calon presiden di pemilu 2019.

“Korupsi politik melalui kongkalikong politisi dan pebisnis batu bara ini menyebabkan masyarakat harus berhadapan langsung dengan berbagai masalah yang ditimbulkan oleh industri kotor ini,” tegasnya.

Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang menegaskan, ijon politik itu mengakibatkan penggusuran lahan, perampasan wilayah adat, kriminalisasi, krisis pangan dan air, ancaman kesehatan, tindakan kekerasan aparat negara, hingga lubang-lubang tambang yang mengakibatkan anak-anak tewas.

“Operasi serampangan PT ABN (Adimitra Baratama Nusantara) yang terhubung dengan bisnis keluarga Menteri Luhut Panjaitan awal Desember ini telah menyebabkan 41 jiwa harus mengungsi, 17 rumah retak dan hancur, jalan utama Desa Sangasanga dan Muara Jawa terputus,” ucapnya.

Rupang menegaskan, coalruption atau korupsi batu bara telah dan sedang menghancurkan kesejahteraan Indonesia. Praktik ini mencemari lingkungan, mematikan, merusak reputasi dan melemahkan demokrasi Indonesia melalui praktik korupsi politik.

“Korupsi politik di sektor batu bara harus diakhiri dengan memutus ketergantungan negara pada komoditas tersebut. Hal ini demi masa depan Indonesia yang lebih baik dengan energi dan politik yang bersih,” tutupnya. (*)

Penulis: Ufqil Mubin
Editor: Yusuf Arafah

TAGGED:Kaltimpertambangan
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Denada Minta Maaf ke Iwa K dan Teuku Ryan, Tegaskan Bukan Ayah Kandung Ressa Rizky

Akurasi.id - Penyanyi dan aktris Denada akhirnya angkat bicara mengenai spekulasi publik…

Jelang Menikah dengan El Rumi, Syifa Hadju Gelar Bridal Lunch Bersama Bridesmaids

Akurasi.id - Aktris muda Syifa Hadju menggelar acara bridal lunch bersama para…

Harga Emas Antam Sepekan Naik Rp29.000, Kini Tembus Rp2,86 Juta per Gram

Akurasi.id - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

BI Kaltim Sediakan Rp4,02 Triliun untuk Penukaran Uang Jelang Idul Fitri
EkonomiHeadline

BI Kaltim Siapkan Rp4,02 Triliun untuk Penukaran Uang Jelang Idul Fitri

By
Devi Nila Sari
Batu Bara Indonesia Jadi Rebutan Dunia, Negara di Asia Juga Ikut Berburu
Covered StoryEkonomiHeadline

Batu Bara Indonesia Jadi Rebutan Dunia, Negara di Asia Juga Ikut Berburu

By
Redaksi Akurasi.id
Daya Konsumsi Masyarakat Kaltim Membaik di Tengah Fenomena La Nina
Trending

Daya Konsumsi Masyarakat Kaltim Membaik di Tengah Fenomena La Nina

By
Devi Nila Sari
Hindari Mafia Tanah, Begini Cara Membuat Sertifikat Gratis
BirokrasiHeadline

Hindari Mafia Tanah, Begini Cara Membuat Sertifikat Gratis

By
Devi Nila Sari
Akurasi.id adalah tagline dari suku kata Aktual dan Menginspirasi. Dua kata itu dipilih bukan tanpa alasan. Kami menyadari perkembangan teknologi informasi memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Khususnya, berbagai informasi yang disajikan media daring.

Tuntutan kecepatan informasi acap membuat pelaku media daring melupakan kedalaman dan ketajaman berita yang disajikan di publik. Tak pelak, informasi yang disuguhkan sangat dangkal. Seolah hanya memenuhi dahaga pembaca. Tidak menyajikan analisa dan intisari informasi.
  • Kategori Populer:
  • Trending
  • Uncategorized
  • Headline
  • Kabar Politik
  • Peristiwa
  • News
  • Birokrasi
  • Hukum & Kriminal
  • Covid-19
  • Ragam
About Company
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© Copyright Akurasi.id 2019 – 2025, All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?