By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • Anews
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
  • Ragam
  • Etalase
  • Infografis
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Follow US
> Blog > Ragam > Catatan > Perang, Hoaks, dan Kepentingan Ekonomi di Suriah
Catatan

Perang, Hoaks, dan Kepentingan Ekonomi di Suriah

akurasi 2019
Last updated: Maret 15, 2019 1:47 pm
By
akurasi 2019
Share
4 Min Read
Perang, Hoaks, dan Kepentingan Ekonomi di Suriah
Ufqil Mubin (dok pribadi)
SHARE
Perang, Hoaks, dan Kepentingan Ekonomi di Suriah
Ufqil Mubin (dok pribadi)

Oleh Ufqil Mubin

15 Maret 2019

Tepat hari ini, delapan tahun yang lalu, perang Suriah berkecamuk. Ditandai dengan demonstrasi besar-besaran di sejumlah kota di negara yang dipimpin Bashar Al Assad itu. Bahan bakar aksi protes itu bermula di Provinsi Daraa. Dalihnya, kebrutalan aparat terhadap 15 anak yang telah menghujat Bashar lewat grafiti di sekolah. Lalu, demonstrasi meluas di Damaskus.

Memang terlalu simplistik jika kita menyederhanakan perang Suriah disebabkan penangkapan belasan anak di Daraa. Lebih dari itu, perang Suriah ditandai dengan beragam sebab. Jika ditarik pada akar yang paling mendasar, perang sipil itu tidak jauh berbeda dengan konflik-konflik berdarah yang pernah mengguncang dunia.

Sejatinya, perang Suriah adalah perebutan sumber ekonomi dari kelompok-kelompok yang sudah lama melihat negara tersebut sebagai pemilik gas terbesar di dunia. Proxy war yang dimainkan dalam kurun waktu tujuh tahun itu tidak lebih dari upaya perluasan kekuasaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Sementara China dan Rusia, berkepentingan sama. Mempertahankan proyek gas yang telah disepakati dengan pemerintah Suriah.

Saya tidak memiliki dasar yang kuat untuk menyebut perang Suriah sebagai penegakan nilai-nilai Islam. Kebebasan berpendapat, tuntutan penggantian kekuasaan, hingga perubahan sistem hanya jargon yang melatarinya.

Perang, Hoaks, dan Kepentingan Ekonomi di Suriah
Ilustrasi(Internet)

Pelabelan perang Syiah dan Sunni digunakan untuk membakar kemarahan publik Suriah. Tentu juga dunia. Nyatanya memang begitu. Umat Islam dunia bersimpati pada negara yang berpenduduk mayoritas Muslim itu. Tak sedikit yang menghujat Bashar. Dia dilabeli sebagai pemimpin yang zalim, sewenang-wenang, dan merampas kebebasan berpendapat rakyat. Karena alasan itu pula, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), Jabhat Al Nusra, dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, berkontribusi menghancurkan Suriah.

Yang paling ekstrem, kepala negara yang berkuasa sejak tahun 2000 itu disematkan dengan pemimpin yang ingin berkuasa layaknya Tuhan. Dia dicitrakan sebagai penguasa yang sejajar dengan Firaun. Negara-negara di Barat menggunakan media massa mainstrem untuk mengobarkan api fitnah kepada Bashar. Dalam kurun waktu tertentu, framming itu berhasil. Indonesia menjadi negara yang termakan beragam hoaks yang berterabaran di media sosial.

Jika perang yang dipaksakan itu didasarkan pada sistem yang tidak demokratis, siapa yang dapat menyangkal, Suriah adalah satu di antara negara yang menganut sistem demokrasi yang ditandai dengan pemilihan umum? Sementara negara-negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, Oman, Kuwait, Bahrain, masih menggunakan sistem monarki. Anda dapat menyimpulkan sendiri, bagaimana sistem kerajaan bekerja? Tak ada kebebasan sipil. Kekuasaan absolut dipegang oleh sang raja.

***

Perang Suriah adalah perang berlumuran darah. Lebih dari 360.000 orang teridentifikasi meninggal dunia. Itu belum termasuk korban jiwa yang tidak tercatat, hilang, dan hancur karena ledakan bom serta korban yang ditutupi reruntuhan bangunan. Jutaan orang mengungsi di dalam negeri dan luar negeri. Negara dengan penduduk 18.028.549 jiwa itu porak-poranda. Kemiskinan ekstrem menghantui penduduk di negara yang memiliki 15 provinsi tersebut. Apa yang tersisa dari perang Suriah selain darah, air mata, dan kehancuran negara yang memiliki pasokan minyak dan gas di Timur Tengah itu?

Kita belajar banyak hal dari konflik Suriah. Saat kebencian pada pemerintahan meluas di negeri ini, jargon khilafah islamiyah, framming penangkapan “ulama” secara sewenang-wenang, dan pengafiran ulama-ulama yang memiliki otoritas keilmuan oleh mereka yang bahkan tidak bisa men-tashrif kata kafaro, bayang-bayang konflik serupa menghantui negeri ini.

Bukan tidak mungkin pula, pemilu 2019 menjadi pintu masuk konflik horizontal. Yang dapat kita lakukan adalah membangun rasionalitas berpikir agar tidak mudah percaya dengan berita bohong yang digunakan kelompok-kelompok yang bernafsu menguasai negara ini. Karena dari sanalah perang Suriah berkecamuk. Saat media sosial dipenuhi hoaks dan kebencian terhadap pemerintah. Tanda-tanda itu ada di Indonesia. (*)

Editor: Ufqil Mubin

TAGGED:Perang SuriahUfqil Mubin
Share This Article
Facebook Copy Link Print
1 Komentar 1 Komentar
  • Putry nabila berkata:
    Maret 15, 2019 pukul 2:01 pm

    Sukses selalu om ufqilmubin

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Denada Minta Maaf ke Iwa K dan Teuku Ryan, Tegaskan Bukan Ayah Kandung Ressa Rizky

Akurasi.id - Penyanyi dan aktris Denada akhirnya angkat bicara mengenai spekulasi publik…

Jelang Menikah dengan El Rumi, Syifa Hadju Gelar Bridal Lunch Bersama Bridesmaids

Akurasi.id - Aktris muda Syifa Hadju menggelar acara bridal lunch bersama para…

Harga Emas Antam Sepekan Naik Rp29.000, Kini Tembus Rp2,86 Juta per Gram

Akurasi.id - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kaum Muda Melawan Korupsi
Catatan

Kaum Muda Melawan Korupsi

By
akurasi 2019
Pabrik Semen Kutai Timur Berjalan, Apa yang Warga Dapat?
Catatan

Pabrik Semen Kutai Timur Berjalan, Apa yang Warga Dapat?

By
Devi Nila Sari
Catatan

Memindahkan Ibu Kota, Mengalihkan Pusat Peradaban

By
akurasi 2019
solusi palestina
Catatan

Solusi Tuntas Masalah Palestina

By
akurasi 2019
Akurasi.id adalah tagline dari suku kata Aktual dan Menginspirasi. Dua kata itu dipilih bukan tanpa alasan. Kami menyadari perkembangan teknologi informasi memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Khususnya, berbagai informasi yang disajikan media daring.

Tuntutan kecepatan informasi acap membuat pelaku media daring melupakan kedalaman dan ketajaman berita yang disajikan di publik. Tak pelak, informasi yang disuguhkan sangat dangkal. Seolah hanya memenuhi dahaga pembaca. Tidak menyajikan analisa dan intisari informasi.
  • Kategori Populer:
  • Trending
  • Uncategorized
  • Headline
  • Kabar Politik
  • Peristiwa
  • News
  • Birokrasi
  • Hukum & Kriminal
  • Covid-19
  • Ragam
About Company
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© Copyright Akurasi.id 2019 – 2025, All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?