By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • Anews
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
  • Ragam
  • Etalase
  • Infografis
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Follow US
> Blog > Ragam > Catatan > Memindahkan Ibu Kota, Mengalihkan Pusat Peradaban
Catatan

Memindahkan Ibu Kota, Mengalihkan Pusat Peradaban

akurasi 2019
Last updated: Agustus 28, 2019 9:47 am
By
akurasi 2019
Share
3 Min Read
Desain ibu kota negara di Kaltim. (Istimewa)
SHARE
Desain ibu kota negara di Kaltim. (Istimewa)

Ditulis oleh: Ufqil Mubin

28 Agustus 2019

Sejak berabad-abad lampau, jauh sebelum Indonesia merdeka dari penjajahan fisik, Pulau Jawa lebih dikenal ketimbang pulau-pulau lainnya di negara ini. Apa penyebabnya? Pertama, pusat pemerintahan yang dibangun di zaman kolonial berada di Batavia—sekarang dikenal dengan Jakarta. Setelah Indonesia menuai kemerdekaan dari Jepang pada 17 Agustus 1945, ibu kota negara ini pernah dipindah. Tetapi masih di Pulau Jawa. Pada tahun 1946, ibu kota dialihkan ke Yogyakarta. Soekarno memindahkan ibu kota karena Belanda kembali melakukan agresi terhadap Indonesia.

Kedua, sebagaimana negara-negara lain, pusat pemerintahan sebuah negara kerap menjadi sentral isu-isu besar yang bersentuhan dengan hajat hidup masyarakat. Karena itu, “kamera dan tinta” para jurnalis lebih banyak menyorot isu-isu di ibu kota. Praktis, segala hiruk pikuk persoalan bangsa ini diolah, diinformasikan, dibahas, dan diselesaikan di Jakarta. Ketiga, universitas-universitas ternama berdiri beriiringan dengan informasi dan pembangunan yang masif di ibu kota negara. Orang-orang berdatangan, berhimpun layaknya semut. Stasiun televisi dan media-media ternama pun berdiri menyorot perkembangan pembangunan ibu kota. Indonesia seolah-seolah direpresentasikan dengan Pulau Jawa.

Bali, Nusa Tenggara, Sumatra, Kalimantan, dan Papua, baru belakangan ini disorot seiring pembangunan di pulau-pulau tersebut. Tetapi peradaban Indonesia sudah terlanjur tersemat begitu rupa di tanah Jawa. Kerajaan Kutai berdiri lebih awal daripada kerajaan Mataram dan Majapahit. Namun berapa banyak orang yang mengenal kerajaan Kutai? Padahal kerajaan Majapahit berdiri pada abad ke-15. Sementara kerajaan hindu Kutai telah berdiri sekira 11 abad sebelum itu. Tepatnya, kerajaan tertua di Nusantara itu berdiri di abad ke-4. Berapa banyak buku yang menceritakan kerajaan Kutai? Tentu saja ada. Namun tak semasif kisah-kisah heroik di balik perkembangan kerajaan Mataram dan Majapahit.

Pembangunan di luar pulau Jawa pun tak kalah tertinggal. Beberapa penelitian menyebut, dibutuhkan waktu 50 tahun untuk pulau-pulau di luar Jawa untuk mengejar ketertinggalan infrastrukturnya. Kita bisa memperhatikan infrastruktur dasar seperti jalan raya di Kalimantan Timur (Kaltim). Tak semua desa terhubung dengan infrastruktur. Tak ada jalan raya yang menghubungkan Samarinda dan Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Untuk sampai ke sana, kita harus menyusuri sungai berkelok. Padahal masih satu provinsi. Jaraknya 314 kilometer. Listrik pun begitu. Sebanyak 289 desa di Bumi Etam belum teraliri listrik.

Karena itu, terlepas dari pro dan kontra yang berkembang di publik Indonesia, pemindahan ibu kota negara tidak semata memindahkan pusat pemerintahan. Tetapi lebih dari itu, pengalihan pusat pemerintahan dari DKI Jakarta ke sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) adalah ikhtiar kita untuk membangun Indonesia sentris. Pusat-pusat peradaban baru akan bermunculan di ibu kota yang baru. Infrastruktur Kalimantan akan terhubung dengan Sulawesi. Kelak, kita akan lebih dekat dengan keelokan rupa, keindahan budaya, toleransi, dan keramahan suku-suku asli di Kalimantan. (*)

TAGGED:catatanPemindahan Ibu Kota NegaraUfqil Mubin
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Denada Minta Maaf ke Iwa K dan Teuku Ryan, Tegaskan Bukan Ayah Kandung Ressa Rizky

Akurasi.id - Penyanyi dan aktris Denada akhirnya angkat bicara mengenai spekulasi publik…

Jelang Menikah dengan El Rumi, Syifa Hadju Gelar Bridal Lunch Bersama Bridesmaids

Akurasi.id - Aktris muda Syifa Hadju menggelar acara bridal lunch bersama para…

Harga Emas Antam Sepekan Naik Rp29.000, Kini Tembus Rp2,86 Juta per Gram

Akurasi.id - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Pemilu dan Pesimisme Perbaikan Lingkungan di Kaltim
Catatan

Pemilu dan Pesimisme Perbaikan Lingkungan di Kaltim

By
akurasi 2019
Pancasila Memperkokoh Peradaban Bangsa
Catatan

Pancasila Memperkokoh Peradaban Bangsa

By
akurasi 2019
Membumikan Pancasila
Catatan

Membumikan Pancasila

By
akurasi 2019
Katolik dan Pancasila
Catatan

Katolik dan Pancasila

By
akurasi 2019
Akurasi.id adalah tagline dari suku kata Aktual dan Menginspirasi. Dua kata itu dipilih bukan tanpa alasan. Kami menyadari perkembangan teknologi informasi memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Khususnya, berbagai informasi yang disajikan media daring.

Tuntutan kecepatan informasi acap membuat pelaku media daring melupakan kedalaman dan ketajaman berita yang disajikan di publik. Tak pelak, informasi yang disuguhkan sangat dangkal. Seolah hanya memenuhi dahaga pembaca. Tidak menyajikan analisa dan intisari informasi.
  • Kategori Populer:
  • Trending
  • Uncategorized
  • Headline
  • Kabar Politik
  • Peristiwa
  • News
  • Birokrasi
  • Hukum & Kriminal
  • Covid-19
  • Ragam
About Company
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© Copyright Akurasi.id 2019 – 2025, All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?