By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • Anews
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
  • Ragam
  • Etalase
  • Infografis
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Follow US
> Blog > Ragam > Catatan > Peran Mahasiswa di Tahun Politik
Catatan

Peran Mahasiswa di Tahun Politik

akurasi 2019
Last updated: Februari 27, 2019 3:20 am
By
akurasi 2019
Share
6 Min Read
Peran Mahasiswa di Tahun Politik
Mursid Mubarak (dok pribadi).
SHARE
Peran Mahasiswa di Tahun Politik
Mursid Mubarak (dok pribadi).

Ditulis Oleh: Mursid Mubarak

27 Februari 2019

Di media sosial, akhir-akhir ini sering dijumpai foto sekelompok orang yang mengatasnamakan mahasiswa. Mereka  terang-terangan mengampanyekan salah satu calon presiden (capres).

Bukan kali itu saja bermunculan foto kampanye mahasiswa di Facebook untuk salah satu capres. Sebelumnya, kerap ditemukan mahasiswa yang memposting calon legislatif (caleg) yang ikut dalam kontestasi pemilihan umum (pemilu) 2019.

Keikutsertaan mahasiswa mengampanyekan capres dan caleg tertentu, tidak melanggar undang-undang. Justru hal tersebut dilindungi konstitusi negara. Sebagai hak berekspresi dan menyatakan pendapat. Namun pilihan politik untuk terlibat di kubu tertentu, hal itu telah “mengangkangi” idealisme kelompok pemuda terdidik.

Kegawatan itu semakin diperparah di saat organisasi kemahasiswaan disusupi kepentingan partai politik tertentu. Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi tersebut turut “mati-matian” membela penguasa atau calon penguasa yang diusung oleh partai tersebut.

Akibatnya, mahasiswa menjadi acuh memberikan kritikan. Walaupun calon yang didukungnya terbukti bersalah. Kritik yang membangun dinilai akan merugikan calon tersebut. Di sisi lain, mahasiswa itu aktif menyerang lawan politik dari calon yang diusung partai politik yang didukungnya.

Politik praktis erat kaitannya dengan kekuasaan. Apabila kekuasaan telah diperoleh, maka ini yang sering membuat siapa saja lupa diri. Melupakan janjinya. Melupakan tujuannya membantu rakyat. Bahkan tak sedikit kekuasaan menjauhkan seseorang dari Tuhannya.

Peran Mahasiswa di Tahun Politik
Mahasiswa hendaknya menjadi suluh di tengah arus politik yang kian memanas di pemilu 2019. (istimewa)

Pentingnya Independensi Mahasiswa

Mahasiswa tidak dilarang berpolitik. Pada dasarnya, mahasiswa sejak dini telah diajarkan berpolitik di lingkungan kampus melalui organisasi kemahasiswaan. Namun politik yang digeluti di perguruan tinggi adalah upaya penerapan konsep politik normatif.

Tentu saja politik dalam pengertiannya yang ideal, bukan hal yang busuk. Justru politik adalah sebuah proses suci dengan tujuan yang mulia. Politik adalah jalan untuk mendistribusikan keadilan.

Prosesi politik yang tengah berlangsung di Indonesia, nyatanya masih jauh dari konsep politik yang ideal. Politik kita kerap diwarnai gerakan-gerakan seperti kampanye hitam dan money politic yang mencederai konsepsi politik. Sudah menjadi rahasia umum, fenomena ini masih mewarnai perpolitikan Indonesia.

Jika kondisi demikian terus terjadi dalam dinamika politik bangsa ini, maka tidak mungkin Indonesia mencapai clean government. Pemerintahan yang jauh dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Fenomena yang tidak kalah penting di tahun politik ini, atmosfer perpolitikan bangsa  Indonesia sedang mendidih. Dalam kontestasi pemilihan presiden (pilpres), masyarakat terbagi menjadi dua kubu. Hal ini disebabkan perbedaan pilihan politik.

Dalam demokrasi, polarisasi di masyarakat sudah lazim terjadi. Namun sangat disayangkan ketika  perbedaan pendapat itu menyebabkan permusuhan yang berkelanjutan dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan.

Di sinilah peran ideal mahasiswa untuk mengingatkan penerapan politik yang normatif dan berkeadilan. Sepanjang sejarah bangsa ini, mahasiswa telah terbukti perannya sebagai agen of control. Aktif mengontrol dan mengawasi jalannya pemerintahan. Tanpa rasa takut, mereka mengkritisi penguasa yang menyimpang dari undang-undang dan kepentingan rakyat. Tanpa segan, mahasiswa berteriak lantang di depan penguasa yang zalim.

Mahasiswa juga selalu digolongkan sebagai kelompok oposisi penguasa. Hal ini menjadikan mahasiswa sebagai ancaman bagi penguasa yang berlaku sewenang-wenang. Terbukti pada tahun 1998, mahasiwa berhasil memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya.

Independensi mahasiswa diartikan sebagai tidak berpihak kepada siapa pun kecuali pada kebenaran. Dalam politik praktis, kebenaran dan kebohongan menjadi sesuatu yang abu-abu. Sulit dipisahkan. Terikat satu sama lain.

Filsuf Italia Antonio Gramsci menyebut mahasiswa sebagai intelectual organism. Pemikirannya dapat berguna di masyarakat. Hal ini bisa diperankan melalui penelitian di masyarakat. Melakukan pengabdian dan menjadi penyambung lidah rakyat kepada penguasa. Inilah yang melatarbelakangi pentingnya mahasiswa menjaga idealisme dan independensinya.

Suluh di Tengah Kekacauan Politik

Mahasiswa sebagai kelompok terdidik dan kaum intelektual harus mampu melakukan analisa yang mendalam, memberikan pertimbangan-pertimbangan ilmiah, dan kajian-kajian akademis. Bukan ikut berkampanye dan mendeklarasikan dukungan  yang begitu receh. Jauh dari tradisi akademis kampus.

Perlu digarisbawahi bahwa ikut berpartisipasi menggunakan hak pilih adalah keharusan selaku warga negara. Namun mengampanyekan salah satu capres atau caleg bukan ciri seorang mahasiswa.

Tanda pagar (tagar) “#2019 HMI Mengawal Demokrasi” yang  pernah diusung Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) sepertinya tepat untuk diperankan para kader HMI dan mahasiswa secara umum. Di tengah percaturan politik praktis yang sedang berlangsung, mahasiswa mestinya memastikan agar demokrasi berjalan sesuai koridor yang diatur undang-undang.

Dengan jargon “#Mahasiswa Mengawal Demokrasi”, mahasiswa bisa menjaga idealisme dan independensinya. Mahasiswa tidak terkontaminasi kepentingan partai politik. Agar fungsinya sebagai pengontrol sosial tidak dipreteli. Hal itu jauh lebih baik ketimbang mahasiswa ikut terpolarisasi di kubu “#2019gantipresiden” dan “#2019lanjut2periode”.

Peran-peran itu bisa dijabarkan mahasiswa dalam bentuk mengampanyekan agar masyarakat menggunakan hak pilihnya. Mahasiswa juga dapat berperan dalam mengawasi jalannya pemilu. Tujuannya agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran pemilu. Dengan upaya itu, proses politik kiranya dapat berjalan secara jujur dan adil. Peran mahasiswa itu secara perlahan dapat mengawal lahirnya pemerintahan bersih yang selalu kita idamkan. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Sekilas: Mursid Mubarak adalah Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kutai Kartanegara.

TAGGED:catatanMursid Mubarak
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Denada Minta Maaf ke Iwa K dan Teuku Ryan, Tegaskan Bukan Ayah Kandung Ressa Rizky

Akurasi.id - Penyanyi dan aktris Denada akhirnya angkat bicara mengenai spekulasi publik…

Jelang Menikah dengan El Rumi, Syifa Hadju Gelar Bridal Lunch Bersama Bridesmaids

Akurasi.id - Aktris muda Syifa Hadju menggelar acara bridal lunch bersama para…

Harga Emas Antam Sepekan Naik Rp29.000, Kini Tembus Rp2,86 Juta per Gram

Akurasi.id - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Perang, Hoaks, dan Kepentingan Ekonomi di Suriah
Catatan

Pembunuhan Tragis dan Duka Kita

By
akurasi 2019
Menerabas Keterisolasian Jalan Kampung Timur Kanaan Dalam Semangat Gotong Royong TMMD Ke-120
CatatanCovered StoryHeadlineRagam

Menerabas Keterisolasian Jalan Kampung Timur Kanaan Dalam Semangat Gotong Royong TMMD Ke-120

By
Fajri
wabah covid-19
Catatan

Wabah Covid-19 Melanda, Nyawa Rakyat Taruhannya

By
akurasi 2019
Taschiyatul Hikmiyah
CatatanPendidikanRagam

Relevansi Praktik Merdeka Belajar dengan Semboyan Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

By
Rachman Wahid
Akurasi.id adalah tagline dari suku kata Aktual dan Menginspirasi. Dua kata itu dipilih bukan tanpa alasan. Kami menyadari perkembangan teknologi informasi memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Khususnya, berbagai informasi yang disajikan media daring.

Tuntutan kecepatan informasi acap membuat pelaku media daring melupakan kedalaman dan ketajaman berita yang disajikan di publik. Tak pelak, informasi yang disuguhkan sangat dangkal. Seolah hanya memenuhi dahaga pembaca. Tidak menyajikan analisa dan intisari informasi.
  • Kategori Populer:
  • Trending
  • Uncategorized
  • Headline
  • Kabar Politik
  • Peristiwa
  • News
  • Birokrasi
  • Hukum & Kriminal
  • Covid-19
  • Ragam
About Company
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© Copyright Akurasi.id 2019 – 2025, All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?