Akurasi.id – Beras menjadi makanan pokok utama masyarakat Indonesia. Namun, di pasaran kini mulai banyak ditemui beras fortifikasi. Apa sebenarnya beras fortifikasi dan benarkah lebih sehat dari beras biasa yang kita konsumsi sehari-hari?
Beras fortifikasi sering dikaitkan dengan upaya pencegahan stunting dan kekurangan gizi. Lalu apa bedanya dengan beras putih biasa? Mari kita simak penjelasannya.
Apa Itu Beras Fortifikasi?
Beras fortifikasi adalah beras biasa yang diperkaya dengan vitamin dan mineral penting melalui proses fortifikasi atau penambahan nutrisi. Secara fisik, beras ini terlihat sama dengan beras biasa, namun di dalamnya terdapat butir-butir beras yang telah diperkaya (fortified rice kernels) yang dicampur dengan beras reguler.
Menurut Badan Pangan Nasional, fortifikasi beras bertujuan untuk mengatasi masalah kekurangan zat gizi mikro (hidden hunger) yang masih banyak terjadi di Indonesia.
Bagaimana Kandungan Gizinya?
Perbedaan utama terletak pada kandungan mikronutriennya.
1. Beras Biasa
Beras putih biasa dominan mengandung karbohidrat sebagai sumber energi. Namun, dalam proses penggilingan, sebagian besar vitamin dan mineral di lapisan kulit ari (bekatul) hilang. Kandungan utamanya hanya karbohidrat, sedikit protein dan serat.
2. Beras Fortifikasi
Selain karbohidrat, beras ini diperkaya dengan beberapa zat gizi penting, seperti:
– Zat Besi (Fe): Mencegah anemia
– Asam Folat: Penting untuk ibu hamil dan tumbuh kembang janin
– Vitamin B1, B3, B6, B12: Untuk metabolisme energi
– Zinc (Seng): Meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah stunting
– Vitamin A: Untuk kesehatan mata
Mana yang Lebih Sehat?
Jika dilihat dari kelengkapan gizi, beras fortifikasi lebih unggul dari beras biasa. Beras biasa hanya memberikan rasa kenyang dan energi, sementara beras fortifikasi memberikan energi plus tambahan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Beberapa studi menunjukkan konsumsi beras fortifikasi secara rutin memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
– Menurunkan angka anemia pada remaja putri dan ibu hamil
– Mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah stunting
– Meningkatkan konsentrasi dan produktivitas kerja
Namun, perlu diingat beras fortifikasi bukanlah obat. Ia adalah penyempurnaan dari beras biasa.
Apakah Ada Kekurangannya?
Tentu ada, antara lain di harga. Harga beras fortifikasi lebih mahal sedikit dari beras premium biasa karena ada proses tambahan. Selain itu, cara masaknya juga harus benar. Tidak disarankan dicuci berulang kali dengan cara diremas keras, karena vitamin yang menempel bisa larut dan hilang.
Untuk mengolahnya, cukup cuci 1-2 kali secara lembut. Sementarai terkait rasa dan tekstur, bagi sebagian orang, ada sedikit perbedaan rasa, meski secara umum hampir tidak terasa.
Jadi, Benarkah Lebih Sehat?
Jawabannya Ya. Beras fortifikasi lebih sehat karena kandungan gizinya lebih lengkap dibandingkan beras biasa. Beras biasa tetap sehat sebagai sumber energi, namun miskin zat gizi mikro.Beras fortifikasi sangat dianjurkan untuk kelompok rentan seperti ibu hamil, menyusui, remaja putri, dan anak-anak dalam masa pertumbuhan, serta keluarga yang berisiko mengalami kekurangan gizi.Jika Anda mencari beras untuk kebutuhan gizi yang lebih baik dan pencegahan jangka panjang, beras fortifikasi adalah pilihan yang lebih tepat. (*)
Penulis: Pewarta
Editor: Devi Nila Sari

