By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • News
  • News & Perspective
  • Hukum & Kriminal
  • Etalase
  • Infografis
  • Ragam
  • Pariwara
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • News
  • News & Perspective
  • Hukum & Kriminal
  • Etalase
  • Infografis
  • Ragam
  • Pariwara
Follow US
> Trending > Banjir Samarinda Belum Juga Turun, Para Korban Mulai Krisis Makanan
Trending

Banjir Samarinda Belum Juga Turun, Para Korban Mulai Krisis Makanan

akurasi 2019
Last updated: Januari 15, 2020 10:59 pm
By
akurasi 2019
Share
4 Min Read
banjir samarinda
Hingga dengan Rabu (15/1/20), banjir yang melanda sebagian besar wilayah Samarinda belum juga kunjung surut. (Dirhan/Akurasi.id)
SHARE
banjir samarinda
Hingga dengan Rabu (15/1/20), banjir yang melanda sebagian besar wilayah Samarinda belum juga kunjung surut. (Dirhan/Akurasi.id)

Akurasi.id, Samarinda – Banjir yang melanda sejumlah wilayah Kota Samarinda selama empat hari terakhir mulai dirasakan dampaknya bagi warga. Tidak hanya karena rumah mereka terendam banjir, tetapi persediaan makanan yang mereka miliki juga kian menipis.

baca juga: Banjir Samarinda Kian Mengkhawatirkan, Ratusan Siswa SD Dievakuasi, Sekolah Diliburkan

Hal itu banyak dirasakan warga yang bermukim di kawasan Perumahan Bengkuring, Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara. Sebagai daerah langganan banjir, para warga setempat terpaksa mengungsi ke sejumlah masjid di wilayah itu. Di antaranya di Masjid Al Muhajirin.

Salah seorang warga korban banjir di daerah Bengkuring, Dewi Sari (36) mengatakan, sampai dengan Rabu (15/1/20) sore, dirinya bersama warga lain yang mengungsi di Masjid Al Muhajirin, belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.

Dia berujar, untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum selama 3 hari terakhir, semuanya dia beli sendiri. “Semua saya beli sendiri (makanan dan minumannya), Mas,” ucap warga bermukim di RT 37, Jalan Terong tersebut.

Melihat banjir yang hingga Rabu (15/1/20) sore belum juga turun, membuat Dewi semakin khawatir. Karena stok makanan dan minuman yang dia punya semakin menipis. Dewi berharap, agar pemerintah segera menyalurkan bantuan kepada warga yang menjadi korban banjir.

Selain mengharapkan bantuan makanan siap saji, bantuan lain yang sangat diharapkan yakni pempers anak kecil, minyak kayu putih, obat anti nyamuk, dan kebutuhan air bersih.

“Di sini ada banyak anak kecil. Mereka butuh pempers dan obat-obatan. Dan di sini sudah enggak ada makanan, ada banyak nyamuk juga,” cakapnya.

Hal senada juga disampaikan Sumiyati (39). Warga RT 32 Kelurahan Sempaja Timur yang juga rumahnya terendam ini mengaku, kalau dia dan keluarganya sudah dua hari di Masjid Al Muhajirin. Dan selama dua hari pula dia belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.

“Biar nasi satu bungkus belum ada mas. Air minum juga belum ada yang diberikan kepada kami di sini,” imbuhnya.

Seperti halnya Dewi, Sumiyati juga mengandalkan isi kantongnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan selama mengungsi dari banjir. Namun yang sedikit dia syukuri, karena di sekitar masjid tempat dia mengungsi terdapat posko kesehatan yang dibuka Puskesmas Bengkuring untuk para korban banjir.

“Syukurnya, di sekitar kami mengungsi ini masih ada posko kesehatan dan anak-anak tidak ada yang sampai sakit,” ucap ibu dua anak ini.

Terpisah, Kepala Puskesmas Bengkuring, Dr Tiori Karo-Karo menyebutkan, pihaknya memang sengaja membuka posko pelayanan kesehatan. Hal itu sebagai antisipasi ketika ada warga korban yang jatuh sakit atau membutuhkan obat-obatan.

MAHYUNADI

Untuk memenuhi pelayanan kesehatan para warga korban banjir, Dr Tiori bahkan membuka sebanyak dua posko layanan kesehatan di sekitar wilayah tersebut. “Kalau kegiatan layanan kesehatannya seperti pada hari-hari biasa saja. Cuman pindah tempat ke sini saja,” tuturnya.

Dr Tiori menyebutkan, umumnya penyakit yang banyak dikeluhkan para korban banjir yakni sakit tenggorokan, tensi, vertigo, batuk dan pilek. Secara umum, semua penyakit itu belum ada yang berkaitan langsung dengan wabah penyakit akibat dampak banjir.

“Biasanya penyakit-penyakit itu karena warga merasa stres, sehingga darah mereka naik. Dan sejauh ini, belum ada warga yang mengalami penyakit gatal-gatal,” katanya. (*)

Penulis/Editor: Dirhanuddin

TAGGED:Banjir SamarindaKorban Banjirkrisis makanan
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Kabut Asap Selimuti Singapura, Kualitas Udara Masuk Level Tidak Sehat

Akurasi.id - Kualitas udara di Singapura memburuk sejak Kamis, 4 September 2026.…

Fuel Surcharge Naik, Siap-siap Harga Tiket Pesawat Ikutan Naik

Akurasi.id - Calon penumpang siap-siap merogoh kocek lebih dalam. Sejumlah maskapai penerbangan…

Rencana Beli BBM Subsidi Pakai STNK Dibatalkan Pertamina, Ini Alasannya

Akurasi.id - Rencana kewajiban menunjukkan Surat Tanda Nomor Kendaraan atau STNK saat…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Pemilik Lahan Jual Masjid Rp 2,5 Miliar di Makassar: Pengakuan dan Penyelesaian
PeristiwaTrending

Pemilik Lahan Jual Masjid Rp 2,5 Miliar di Makassar Pengakuan dan Penyelesaian

By
Wili Wili
BPOM Ajak Influencer dan Dokter Kolaborasi untuk Edukasi Kosmetik Aman
PeristiwaTrending

BPOM Ajak Influencer dan Dokter Kolaborasi untuk Edukasi Kosmetik Aman

By
Wili Wili
Satpam Rumah Mewah di Bogor Tewas Ditusuk Anak Majikan, Berawal dari Teguran
Hukum & KriminalTrending

Satpam Rumah Mewah di Bogor Tewas Ditusuk Anak Majikan, Berawal dari Teguran

By
Wili Wili
Trending

Puluhan Instansi di Samarinda Menunggak Air, Mulai Belasan hingga Ratusan Juta

By
akurasi 2019
Akurasi.id adalah tagline dari suku kata Aktual dan Menginspirasi. Dua kata itu dipilih bukan tanpa alasan. Kami menyadari perkembangan teknologi informasi memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Khususnya, berbagai informasi yang disajikan media daring.

Tuntutan kecepatan informasi acap membuat pelaku media daring melupakan kedalaman dan ketajaman berita yang disajikan di publik. Tak pelak, informasi yang disuguhkan sangat dangkal. Seolah hanya memenuhi dahaga pembaca. Tidak menyajikan analisa dan intisari informasi.
  • Kategori Populer:
  • Trending
  • Uncategorized
  • Headline
  • Kabar Politik
  • Peristiwa
  • News
  • Birokrasi
  • Hukum & Kriminal
  • Covid-19
  • Ragam
About Company
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Kami
© Copyright Akurasi.id 2019 – 2025, All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?