
![]()
Akurasi.id – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) sekaligus mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, mengungkapkan pengalaman pribadi terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah. Dalam kanal YouTube miliknya, Terus Terang Mahfud MD, ia menuturkan bahwa cucu keponakannya menjadi korban keracunan setelah menyantap makanan MBG di Yogyakarta.
“Cucu saya juga keracunan MBG di Jogja. Cucu ponakan, jadi saya punya keponakan, keponakan saya punya anak namanya Ihsan,” ujar Mahfud,
8 Siswa Keracunan, Dua Cucu Mahfud Jadi Korban
Mahfud menceritakan, kasus keracunan terjadi saat jam makan siang di sekolah. Sebanyak delapan siswa, termasuk dua cucunya, mengalami muntah-muntah usai menyantap menu MBG.
Tujuh siswa, termasuk salah satu cucu Mahfud, diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan singkat. Namun, seorang cucu lainnya harus menjalani rawat inap hingga empat hari di rumah sakit akibat kondisi yang lebih parah.
“Yang satu ini harus dirawat 4 hari. Jadi ada dua, bersaudara, beda kelas, di sekolah yang sama,” jelasnya.
Kritik Mahfud atas Pernyataan Presiden Prabowo
Mahfud turut menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut jumlah korban keracunan MBG hanya sekitar 0,0017 persen dari total 30 juta porsi makanan yang telah disalurkan.
Menurut Mahfud, masalah ini tidak bisa semata-mata dilihat dari angka statistik. Ia membandingkan dengan kecelakaan pesawat yang meski hanya terjadi sekali, tetap menjadi isu besar karena menyangkut nyawa manusia.
“Betul kata Presiden, kecil sekali angkanya. Tapi jutaan pesawat terbang di dunia ini lalu lalang setiap hari, kecelakaan satu saja orang ribut. Karena ini menyangkut nyawa dan kesehatan. Ini bukan soal angka, tapi harus diteliti apa masalahnya,” tegas Mahfud.
Minta Tata Kelola MBG Dibenahi
Melalui video bertajuk Bereskan Tata Kelola MBG, Mahfud menekankan pentingnya perbaikan sistem penyelenggaraan program ini agar tidak lagi menimbulkan korban. Menurutnya, setiap kasus keracunan harus ditindaklanjuti serius karena menyangkut keselamatan siswa.
“Ini bukan persoalan angka, tapi nyawa. Maka tata kelola MBG perlu dibenahi secara menyeluruh,” pungkas Mahfud.(*)
Penulis: Nicky
Editor: Willy









