
Akurasi.id, Samarinda – Umumnya, Balita 5 bulan kemampuan motoriknya akan semakin berkembang dan mulai bisa tengkurap. Namun Sultan Putra Yudistira tak mampu melewati tahap perkembangan itu seperti bayi normal lainnya.
Baca juga :Klaster Baru Covid-19 Dinyatakan Selesai dalam Sepekan, Ini Penjelasan IDI Kaltim
Hanya dapat berbaring di kasur kecilnya, buah hati pasangan Wahyudi dan Emilia ini mengidap penyakit cukup serius. Benjolan besar berupa cairan di belakang kepala membuat balita malang ini hanya bisa terbaring lemah.

Emilia menuturkan dokter telah mendiagnosa putra bungsunya dari 3 bersaudara ini mengidap penyakit miniongkel, yakni cairan yang tumbuh di luar kepala.
Selama masa mengandung hingga mendekati hari kelahirannya, ibu kandung Sultan ini mengaku tidak merasakan hal aneh. Terlebih dirinya selalu rutin memeriksakan kandungannya.
“Selama hamil saya rutin periksa hingga USG. Sampai Sultan lahir tidak ada yang aneh. Tapi memang ada sedikit benjolan di belakang kepalanya saat itu,” kata Emilia saat ditemui Akurasi.id dikediamannya, Jalan Proklamasi VI RT 53, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang, Kamis (23/7/20).
Awalnya Emilia menganggap benjolan kecil itu hanya tanda lahir saja. Namun seiring tumbuh kembangnya, benjolan tersebut juga ikut membesar hingga saat ini.
Upaya untuk mengobati putra kesayangannya itu pun sudah dilakukan. Namun karena keterbatasan ekonomi, Emilia dan Wahyudi tak dapat berbuat banyak. Keduanya hanya bisa membawa Sultan ke dokter umum biasa. Padahal melihat kondisi Sultan, balita malang ini harus segera dioperasi.
Di tengah kesulitan dan keputusasaan akan kesehatan Sultan, ditambah lagi masa pendemi Covid-19 yang menyulitkan kedua pasangan suami istri ini, mereka hanya bisa pasrah sembari berusaha mencari bantuan agar putranya bisa tertangani tim medis dengan baik.
Harapan itu pun sedikit terbuka saat sejumlah komunitas hingga relawan yang peduli dengan kondisi Sultan datang memberi bantuan. Komunitas Ampas Kopi yang kebanyakan beranggotakan pengamen jalanan ini mengumpulkan dana untuk membantu pengobatan. Dengan dana yang terkumpul itu Sultan sudah sekali menjalani operasi.
“Alhamdulillah kami mendapat bantuan dari relawan. Saat datang memang meminta untuk ditindaklanjuti agar Sultan dibawa ke rumah sakit. Jadi waktu itu langsung dilakukan operasi tahap pertama,” ungkap Emilia.
Meski sudah dilakukan operasi tak serta merta benjolan kepala Sultan hilang begitu saja. Tim dokter yang menangani tidak berani mengambil risiko untuk mengangkat seluruh benjolan tersebut. Pasalnya Sultan masih terlalu kecil dan berisiko tinggi.
“Kata dokter tidak bisa mengangkat operasi langsung, karna ada sebagian otak aktif yang keluar, sebagian juga saraf dan risiko juga buat bayi yang masih berusia sangat muda” bebernya.

Di saat bersamaan, wartawan yang meninjau langsung kondisi Sultan di kediamannya, bantuan pun datang dari Komunitas Ampas Kopi yang di wakili Rudy Kompeng. Dia berharap meski sedikit bantuan yang diberikan mampu meringankan beban dari pihak keluarga untuk pengobatan Sultan.
“Ini adalah bantuan dari Ampas Kopi yang kedua dari hasil kami semua mengamen beberapa hari. Dana ini sengaja kami kumpulkan untuk membantu adik kami Sultan. Saya beserta anggota berharap adik kita Sultan bisa sehat dan normal seperti anak lain seumurannya,” harap Rudy.
Meski telah mendapat bantuan dari berbagai relawan serta komunitas dan intansi terkait, pihak keluarga masih berharap agar Pemerintah Kota Samarinda, dapat turun tangan membantu untuk proses pengobatan. Sebab dalam pengangkatan cairan diperlukan proses operasi secara bertahap. (*)
Penulis: Muhammad Budi Kurniawan
Editor: Suci Surya Dewi
