By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • News
  • News & Perspective
  • Hukum & Kriminal
  • Etalase
  • Infografis
  • Ragam
  • Pariwara
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • News
  • News & Perspective
  • Hukum & Kriminal
  • Etalase
  • Infografis
  • Ragam
  • Pariwara
Follow US
> Headline > Belanda Minta Maaf ke RI Pasca Lakukan Kekerasan Ekstrem Selama Dekolonisasi
HeadlineTrending

Belanda Minta Maaf ke RI Pasca Lakukan Kekerasan Ekstrem Selama Dekolonisasi

akurasi 2019
Last updated: Maret 6, 2022 6:36 pm
By
akurasi 2019
Share
3 Min Read
Belanda Minta Maaf ke RI Pasca Lakukan Kekerasan Ekstrem Selama Dekolonisasi
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte. (Viva.com
SHARE

Belanda minta maaf ke RI atas perlakuan kekerasan militer Belanda selama perang dekolonisasi. PM Mark Rutte yang menyampaikan ungkapan permohonan Belanda minta maaf ke RI.

Akurasi.id, Jakarta – Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada bangsa Indonesia atas kekerasan ekstrem dan sistematis dari militer Belanda selama perang dekolonisasi.

“Kita harus mengakui kenyataan yang memalukan ini. Pada tahun 1945-1949 Belanda melakukan perang kolonial di Indonesia di mana, seperti disampaikan oleh para peneliti, telah terjadi penggunaan kekerasan ekstrem yang sistematis dan luas, hingga penyiksaan-penyiksaan,” kata Rutte dari Brussel di sela-sela kegiatan di Uni Eropa, dikutip kumparan dari siaran RTLNieuws, Kamis (17/2).

Permohonan maaf Rutte disampaikan menanggapi kesimpulan penelitian Independence, Decolonization, Violence and War in Indonesia (Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia, red) yang dilakukan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV), het Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH) dan Nederlands Instituut voor Oorlogs-, Holocaust en Genocidestudies (NIOD).

Pengumuman kesimpulan itu hari ini atau beberapa jam sebelum Rutte menyampaikan permohonan maaf kepada Bangsa Indonesia.

“Atas penggunaan kekerasan ekstrem yang sistematis dan luas oleh pihak Belanda pada tahun-tahun itu dan atas pengingkaran yang terus-menerus oleh kabinet-kabinet sebelumnya, saya hari ini atas nama pemerintah Belanda menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada Bangsa Indonesia,” ucap Rutte.

Rutte juga menyampaikan permohonan maaf ini kepada warga Belanda yang ikut menanggung akibat dari perang kolonial pada masa itu.

“Di samping itu kita hari ini juga melihat bahwa permohonan maaf kabinet juga sudah pada tempatnya kepada setiap orang di negara kita yang harus hidup menanggung akibat dari Perang Kolonial di Indonesia hingga hari ini, untuk semua golongan termasuk para veteran yang pada masa itu bertindak sebagai militer yang baik,” kata Rutte.

[irp]

Terapkan Kekerasan Ekstrem

Sebelumnya, dari penelitian skala besar terungkap bahwa Belanda selama dekolonisasi menerapkan kekerasan ekstrem dan para petinggi mengetahuinya.

Selama Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949) tentara Belanda bersalah dalam skala besar menggunakan kekerasan ekstrem, yang acapkali menerapkan dengan sengaja.

Di semua tingkatan, baik politik, militer maupun peradilan semua mendiamkan. Alasan untuk itu adalah bahwa Belanda ingin mengalahkan Republik Indonesia dengan segala cara dan untuk tujuan tersebut siap untuk mengorbankan segalanya. Oleh karena itu juga melanggar batas-batas etika yang berlaku pada saat itu.

Posisi resmi pemerintah yang masih berlaku sejak 1969 sebagai Excessennota mengenai ‘politionele acties’ (Aksi-aksi Polisionil; versi Indonesia: Agresi Militer Belanda I dan II, red) adalah tidak ada ‘kekejaman sistematis’ dari pihak tentara Belanda dan bahwa ‘angkatan bersenjata Belanda secara keseluruhan berperilaku benar di Indonesia. Para peneliti mengatakan bahwa posisi tersebut kini tidak bisa bertahan lagi.(*)

Sumber: Kumparan.com
Editor: Redaksi Akurasi.id

TAGGED:BelandaDekolonisasiHardnewsPerang Kemerdekaan
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Cara Memilih TWS Murah Berkualitas Tanpa Menguras Kantong

Akurasi.id - Gaya hidup modern yang serba cepat membuat perangkat audio nirkabel…

Syarat Lengkap Pembuatan SKCK 2026, Simak Dokumen yang Harus Disiapkan

Akurasi.id - Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) merupakan dokumen resmi yang diterbitkan…

Cara Melaporkan Kejahatan Siber: Panduan Lengkap bagi Korban Penipuan dan Peretasan Online

Akurasi.id - Kehadiran ruang digital yang kian masif sayangnya juga dibarengi dengan…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Evaluasi Total SOP Pendakian Gunung Usai Tragedi Juliana di Rinjani, Kemenhut dan Basarnas Tegaskan Langkah Mitigasi
PeristiwaTrending

Evaluasi Total SOP Pendakian Gunung Usai Tragedi Juliana di Rinjani, Kemenhut dan Basarnas Tegaskan Langkah Mitigasi

By
Wili Wili
Luhut Beri Penjelasan Terkait Skema Kenaikan Harga Pertalite dan Solar
EkonomiHeadlineRagam

Luhut Beri Penjelasan Terkait Skema Kenaikan Harga Pertalite dan Solar

By
Devi Nila Sari
dr. Tifa Diperiksa Polda Metro Jaya Terkait Kasus Ijazah Jokowi, Minta Lihat Dokumen Asli
PeristiwaTrending

dr. Tifa Diperiksa Polda Metro Jaya Terkait Kasus Ijazah Jokowi, Minta Lihat Dokumen Asli

By
Wili Wili
Vadel Badjideh Resmi Tersangka Kasus Asusila Terhadap Anak di Bawah Umur
Hukum & KriminalTrending

Vadel Badjideh Resmi Tersangka Kasus Asusila Terhadap Anak di Bawah Umur

By
Wili Wili
Akurasi.id adalah tagline dari suku kata Aktual dan Menginspirasi. Dua kata itu dipilih bukan tanpa alasan. Kami menyadari perkembangan teknologi informasi memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Khususnya, berbagai informasi yang disajikan media daring.

Tuntutan kecepatan informasi acap membuat pelaku media daring melupakan kedalaman dan ketajaman berita yang disajikan di publik. Tak pelak, informasi yang disuguhkan sangat dangkal. Seolah hanya memenuhi dahaga pembaca. Tidak menyajikan analisa dan intisari informasi.
  • Kategori Populer:
  • Trending
  • Uncategorized
  • Headline
  • Kabar Politik
  • Peristiwa
  • News
  • Birokrasi
  • Hukum & Kriminal
  • Covid-19
  • Ragam
About Company
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Kami
© Copyright Akurasi.id 2019 – 2025, All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?