By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • News
  • News & Perspective
  • Hukum & Kriminal
  • Etalase
  • Infografis
  • Ragam
  • Pariwara
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • News
  • News & Perspective
  • Hukum & Kriminal
  • Etalase
  • Infografis
  • Ragam
  • Pariwara
Follow US
> Ragam > Pendidikan > Ancaman AI terhadap Nalar Kritis Mahasiswa: Perspektif Pendidikan Islam
Pendidikan

Ancaman AI terhadap Nalar Kritis Mahasiswa: Perspektif Pendidikan Islam

Fajri
Last updated: Oktober 12, 2026 1:41 am
By
Fajri
Share
6 Min Read
Ancaman AI terhadap Nalar Kritis Mahasiswa: Perspektif Pendidikan Islam
Foto: Ilustrasi
SHARE

Oleh: Zulkifli

Tugas kuliah yang dahulu membutuhkan riset berhari-hari kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Cukup mengetik perintah, menunggu sejenak, lalu menyalin hasilnya ke lembar kerja. Tugas selesai, mahasiswa merasa terbantu, sementara dosen dihadapkan pada tulisan yang tampak rapi dan ilmiah. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah mahasiswa benar-benar memahami apa yang mereka kumpulkan?

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memang menawarkan efisiensi dalam dunia pendidikan. Akan tetapi, ketika teknologi ini digunakan untuk menggantikan proses berpikir, bukan mendukungnya, pendidikan tinggi menghadapi persoalan serius. Bukan semata-mata soal kecurangan akademik, melainkan risiko melemahnya kemampuan mahasiswa untuk menganalisis, menguji argumen, dan membangun kesimpulan secara mandiri.

Nalar kritis ibarat otot yang perlu terus dilatih. Kemampuan itu tumbuh melalui proses membaca, membandingkan sumber, mempertanyakan informasi, menyusun argumen, dan mengoreksi kesalahan. Jika seluruh proses tersebut diserahkan kepada mesin, mahasiswa berisiko kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir mendalam. Tugas mungkin selesai lebih cepat, tetapi proses belajar yang seharusnya menyertainya justru terabaikan.

Persoalan ini perlu dilihat lebih jauh, terutama melalui perspektif pendidikan Islam yang menempatkan akal, ilmu, dan tanggung jawab moral sebagai bagian penting dari kehidupan manusia.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36).

Ayat tersebut menegaskan pentingnya tanggung jawab dalam menerima dan menyikapi pengetahuan. Informasi tidak semestinya diterima begitu saja tanpa pemeriksaan, apalagi langsung dijadikan dasar untuk mengambil kesimpulan. Manusia dituntut menggunakan kemampuan mendengar, mengamati, dan mempertimbangkan sesuatu secara bertanggung jawab.

Dalam konteks penggunaan AI, prinsip ini menjadi sangat relevan. Hasil yang disajikan mesin tidak otomatis benar hanya karena disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan. Informasi, data, referensi, dan argumentasi yang dihasilkan tetap perlu diperiksa. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menghasilkan tulisan, tetapi juga harus dapat menjelaskan asal-usul informasi, menilai keabsahannya, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan yang dibuat.

Ketika mahasiswa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada algoritma, lalu mengakui hasilnya sebagai karya intelektual pribadi, persoalannya bukan lagi sekadar penggunaan teknologi. Di sana terdapat risiko ketergantungan yang mengikis kemandirian berpikir sekaligus persoalan integritas akademik.

Dalam perspektif akhlak Islam, keadaan tersebut berkaitan erat dengan nilai shiddiq atau kejujuran dan amanah atau tanggung jawab. Kejujuran akademik bukan hanya tentang tidak menyalin karya orang lain. Lebih dari itu, mahasiswa perlu jujur terhadap proses belajar yang dijalaninya, termasuk mengakui bantuan teknologi yang digunakan sesuai dengan ketentuan akademik.

Pengetahuan juga bukan sekadar kumpulan informasi yang dapat diperoleh secara instan. Di dalamnya terdapat proses pencarian, pengujian, pemahaman, dan pertanggungjawaban moral. Perguruan tinggi seharusnya tidak hanya menghasilkan lulusan yang mampu menjawab pertanyaan, tetapi juga individu yang sanggup menjelaskan alasan di balik jawabannya.

Kebiasaan mengabaikan proses berpikir selama kuliah dapat menjadi persoalan ketika mahasiswa memasuki dunia kerja. Berbagai profesi menuntut kemampuan mengambil keputusan, menilai risiko, serta mempertimbangkan dampak suatu tindakan terhadap orang lain. Kemampuan tersebut tidak cukup dibangun dengan mengandalkan jawaban instan. Ia membutuhkan latihan bernalar, keberanian mempertanyakan sesuatu, dan kesediaan mengakui ketidakpastian.

Meski demikian, menolak AI sepenuhnya bukanlah jawaban yang tepat. Perkembangan teknologi tidak dapat dihindari, dan penggunaannya berpotensi membantu proses pembelajaran jika ditempatkan secara proporsional. AI dapat dimanfaatkan untuk memetakan gagasan awal, menjelaskan konsep yang rumit, membandingkan sudut pandang, atau membantu mahasiswa menemukan pertanyaan penelitian. Namun, teknologi tersebut semestinya menjadi alat bantu, bukan pengganti nalar.

Karena itu, yang perlu dibenahi bukan hanya perilaku mahasiswa, melainkan juga metode pembelajaran dan sistem evaluasi di perguruan tinggi. Penugasan berupa esai atau makalah yang dikerjakan di luar kelas tetap dapat digunakan, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya tolok ukur pemahaman mahasiswa.

Dosen perlu memperkuat evaluasi yang menguji proses berpikir secara langsung. Diskusi argumentatif, debat akademik, analisis kasus spontan, presentasi, dan tanya jawab mendalam dapat menjadi bagian dari penilaian. Mahasiswa perlu diberi kesempatan untuk menjelaskan alasan pemilihan sumber, mempertahankan argumen, menanggapi sanggahan, serta mengakui keterbatasan analisisnya.

Perguruan tinggi juga perlu menyusun pedoman penggunaan AI yang jelas. Mahasiswa harus memahami kapan AI boleh digunakan, bagaimana penggunaannya perlu diungkapkan, dan bagian mana dari tugas yang wajib dikerjakan serta dipertanggungjawabkan secara mandiri. Pendekatan ini lebih mendidik daripada sekadar melarang teknologi tanpa membangun kesadaran tentang etika penggunaannya.

Pada akhirnya, pendidikan Islam mengajarkan bahwa ilmu tidak dapat dipisahkan dari akhlak dan tanggung jawab. Kecanggihan teknologi seharusnya memperluas kemampuan manusia untuk belajar, bukan membuatnya berhenti berpikir. Kecepatan memperoleh jawaban tidak selalu sebanding dengan kedalaman memahami persoalan.

AI mungkin mampu menyajikan informasi dalam jumlah besar dan menyusun kalimat dengan cepat. Namun, keputusan tentang kebenaran, kepatutan, dan tanggung jawab tetap membutuhkan penilaian manusia yang kritis dan bermoral.

Jangan sampai perguruan tinggi hanya melahirkan generasi yang mahir memberi perintah kepada mesin, tetapi kesulitan menjelaskan pemikirannya sendiri. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar menyelesaikan tugas dan memperoleh gelar, melainkan membentuk manusia yang mampu menggunakan akalnya secara mandiri, menjaga kejujuran, dan mempertanggungjawabkan ilmunya. (*)

Foto: Zulkifli, Akademisi dan Praktisi Dakwah
Foto: Zulkifli, Akademisi dan Praktisi Dakwah

Tentang Penulis: Zulkifli merupakan Akademisi sekaligus Praktisi Dakwah di Kalimantan Timur

TAGGED:AIopiniZulkifli
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Besok Ada Promo HUT KAI, Bayar 81 Persen Saja, Ini Cara Belinya

Akurasi.id, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) rayakan HUT ke-81 besok,…

HUT Google ke-28 Hari Ini 27 September, Kok Bukan 4 September? Ini Alasan Sebenarnya

Akurasi.id - Buka Google hari ini? Kamu akan melihat Google Doodle spesial…

Awas! 7 Kebiasaan Ini Bikin Wajah Wanita 10 Tahun Lebih Tua

Akurasi.id - Penuaan memang proses alami. Tapi, tahukah kamu kalau penuaan bukan…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Mutiara Annisa Baswedan Raih Beasiswa LPDP untuk Kuliah S2 di Harvard University
PendidikanTrending

Mutiara Annisa Baswedan Raih Beasiswa LPDP untuk Kuliah S2 di Harvard University

By
Wili Wili
ITB Terima 1.911 Mahasiswa Baru Jalur SNBP 2025, Berikut Informasi Lengkapnya
PendidikanTrending

ITB Terima 1.911 Mahasiswa Baru Jalur SNBP 2025, Berikut Informasi Lengkapnya

By
Wili Wili
Tenaga Honorer Takut Jadi Pengangguran di 2023 Akibat Kebijakan Baru Menpan RB
HeadlinePendidikan

Tenaga Honorer Takut Jadi Pengangguran di 2023 Akibat Kebijakan Baru Menpan RB

By
akurasi 2019
Ilustrasi
Techno

Masa Depan AI di Indonesia

By
akurasi 2019
Akurasi.id adalah tagline dari suku kata Aktual dan Menginspirasi. Dua kata itu dipilih bukan tanpa alasan. Kami menyadari perkembangan teknologi informasi memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Khususnya, berbagai informasi yang disajikan media daring.

Tuntutan kecepatan informasi acap membuat pelaku media daring melupakan kedalaman dan ketajaman berita yang disajikan di publik. Tak pelak, informasi yang disuguhkan sangat dangkal. Seolah hanya memenuhi dahaga pembaca. Tidak menyajikan analisa dan intisari informasi.
  • Kategori Populer:
  • Trending
  • Uncategorized
  • Headline
  • Kabar Politik
  • Peristiwa
  • News
  • Birokrasi
  • Hukum & Kriminal
  • Covid-19
  • Ragam
About Company
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Kami
© Copyright Akurasi.id 2019 – 2025, All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?