Akurasi.id, New Delhi – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026). Ini merupakan partisipasi kedua Indonesia sebagai anggota penuh BRICS setelah resmi bergabung 1 Januari 2025.
Dalam sesi terbatas bertema “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism”, Prabowo menyuarakan 5 poin penting mewakili Indonesia dan negara-negara Global South.
1. Reformasi PBB dan Tata Kelola Global yang Lebih Adil
Prabowo menegaskan PBB harus tetap jadi pusat sistem multilateral, tapi perlu direformasi agar lebih representatif dan responsif. Kekuatan besar BRICS perlu diarahkan untuk menjamin ketahanan pangan, energi, serta mempercepat pembangunan infrastruktur di negara-negara Global South.
“PBB harus lebih representatif, lebih responsif, dan lebih mampu memberikan hasil konkret bagi masyarakat kita,” tutur Presiden Prabowo KTT BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, Republik India, sebagaimana melansir rctiplus.com, Minggu (13/09/2026).
Ia juga mendorong peningkatan keterwakilan negara-negara Global South di lembaga internasional seperti PBB. Selain itu, Prabowo menolak penggunaan standar ganda dan “senjata” dalam perdagangan serta mata uang.
2. Menolak Didikte Kekuatan Asing, Tegaskan Kemandirian
Mengutip One.news, pesan paling tegas Prabowo adalah soal kemandirian bangsa.“Kami tidak suka didikte oleh satu atau dua kekuatan tertentu”. Menurutnya, kekuatan sejati berawal dari dalam negeri. Negara harus mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyat secara mandiri: pangan, energi, pendidikan, dan kesejahteraan.
“Begitulah cara kita membangun bangsa yang tangguh dan benar-benar mandiri,” kata dia.
3. Menghidupkan Kembali Spirit Bandung dan Persatuan Global South
Prabowo mengutip pepatah Indonesia di hadapan para pemimpin BRICS.
“Ada pepatah lama di Indonesia, ‘bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh,” ujarnya sebagaimana melansir Kompas.com.
Ia menyebut pepatah ini mencerminkan Bandung Spirit yang dulu menyatukan negara Asia-Afrika. Persatuan ini penting agar suara Global South semakin didengar dan kepentingan bersama lebih terlindungi.
“Agenda ini bertujuan membawa negara-negara berkembang ke posisi yang semestinya, mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan bagi rakyat kita, serta memberikan peran yang lebih besar bagi negara-negara berkembang dalam membentuk tatanan global,” ucap Prabowo.
“Oleh karena itu, sudah sewajarnya suara negara-negara Global South didengar, tidak hanya dalam mempercepat pelaksanaan agenda 2030, tetapi juga dalam menentukan arah masa depan setelahnya,” imbuhnya.
4. Kekuatan Kolektif BRICS untuk Ketahanan Global
Prabowo mengingatkan BRICS mewakili setengah populasi dunia dan bagian besar ekonomi serta perdagangan global. Kekuatan kolektif ini harus dipakai untuk ketahanan pangan dan energi, pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan kemampuan, Global South membiayai masa depannya sendiri, dan otimalisasi New Development Bank (NDB).
“Sebuah masa depan di mana ketangguhan melindungi pembangunan, inovasi memperluas peluang, kerja sama menghasilkan dampak nyata, dan keberlanjutan berarti kesejahteraan diwujudkan baik untuk masa kini maupun bagi generasi mendatang,” ucap presiden.
5. Penolakan Perang dan Dukungan untuk Palestina
Dalam keterangannya, Menko Airlangga menyebut Prabowo juga menegaskan penolakan terhadap segala bentuk tindakan kekerasan, perang, dan standar ganda dalam penanganan krisis internasional, termasuk di Palestina.
Sikap tersebut kemudian menjadi salah satu poin utama dalam Deklarasi New Delhi yang disepakati secara bulat pada hari pertama KTT BRICS di ibu kota India, Sabtu, 12 September. Para pemimpin negara-negara BRICS menolak segala bentuk pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza.
Pada 13/9/2026, di sesi terbuka Prabowo juga mendorong kerja sama BRICS di bidang industri, investasi, dan teknologi. Adapun 4 gagasan utama yang didorong, yakni ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Ia juga menyinggung Indonesia sebagai negara kepulauan di “Cincin Api” paling aktif di dunia.
Prabowo menutup pidatonya dengan apresiasi kepada PM India Narendra Modi selaku tuan rumah dan menyebut keanggotaan Indonesia di BRICS sebagai “kehormatan besar”.
Secara keseluruhan, pesan Indonesia di KTT BRICS 2026: kuat dari dalam, bersatu dengan Global South, dan suarakan tata kelola dunia yang adil. (*)
Penulis: Pewarta
Editor: Devi Nila Sari

