By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
  • Anews
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
  • Ragam
  • Etalase
  • Infografis
  • Anews
    • Global
    • Regional
  • Afood
  • Astyle
  • Ahealth
  • Asport
  • News
    • Peristiwa
    • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Parlemen
    • Ekonomi
    • Lingkungan
    • Birokrasi
    • Catatan
    • Corak
    • Kabar Politik
    • Pariwara
    • Riwayat
    • Otomotif
    • Covered Story
  • Etalase
    • Job Vacancy
    • Kecantikan
    • Properti
    • Kuliner
    • Kesehatan
    • Destinasi
  • Infografis
Follow US
> Blog > Ragam > Kabar Politik > Kemunculan Isu Ijazah Palsu Mahyunadi Dinilai Tidak Wajar, Pengamat: Cenderung Jadi Fitnah
Kabar Politik

Kemunculan Isu Ijazah Palsu Mahyunadi Dinilai Tidak Wajar, Pengamat: Cenderung Jadi Fitnah

akurasi 2019
Last updated: September 23, 2020 10:55 am
By
akurasi 2019
Share
4 Min Read
Kemunculan Isu Ijazah Palsu Mahyunadi Dinilai Tidak Wajar, Pengamat: Cenderung Jadi Fitnah
Pengamat Politik dari Universitas Mulawarman Samarinda Lutfi Wahyudi. (Istimewa)
SHARE
Kemunculan Isu Ijazah Palsu Mahyunadi Dinilai Tidak Wajar, Pengamat: Cenderung Jadi Fitnah
Pengamat Politik dari Universitas Mulawarman Samarinda Lutfi Wahyudi. (Istimewa)

Akurasi.id, Sangatta – Beredarnya isu penggunaan ijazah palsu yang dilakukan Mahyunadi sebagai syarat pendaftaran bakal calon bupati Kutai Timur (Kutim) dalam beberapa waktu terakhir dianggap sebagai bagian dari black campaign. Musababnya, isu tersebut mendadak dihembus di tengah proses pembukaan pendaftaran yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Baca juga: Miris, Gang Seroni IV Sangatta Bagai Jalan Bubur, Mahyunadi: Yang Seperti Ini Wajib Kita Perbaiki

Di sisi lain, Mahyunadi sendiri bukan orang baru di kancah politik Kutim dan Kaltim. Sejak 2004 lalu, dia telah terjun ke dunia politik dengan terpilih menjadi anggota DPRD Kutim dan berlanjut pada 2008 dan 2014. Dia terpilih secara berturut-turut dalam 3 kali pemilihan legislatif.

Kemudian terbaru, Mahyunadi terpilih sebagai anggota DPRD Kaltim pada pemilihan legislatif tahun 2019. Dalam rentan waktu itu, diketahui nyaris tidak ada satu pun Mahyunadi bermasalah dengan ijazah. Sehingga wajar jika kemudian muncul isu ijazah palsu yang digunakan Mahyunadi adalah bagian dari black campaign di masa Pilkada Kutim.

“Hal yang tidak wajar dan tidak selayaknya dilakukan,” demikian dikatakan Pengamat Politik dari Universitas Mulawarman Samarinda, Lutfi Wahyudi saat tanya wartawan media ini beberapa waktu lalu.

Dia mengingatkan, bahwa isu seperti itu hal yang lumrah dilakukan oleh oknum-oknum tertentu di masa pilkada seperti saat ini. Hal yang demikian biasa dimunculkan, meski tidak wajar dan belum tentu benar adanya sebagai bagian dari strategi politik.

“Saya menilai tidak wajar, dari sisi etika dan moralitas. Tetapi sesuatu yang lumrah dilakukan, walaupun belum tentu benar,” katanya.

Seperti isu ijazah palsu Mahyunadi menurut Lutfi bisa dikatakan sebagai bagian dari black campaign bila itu tidak benar adanya. Tetapi jika itu bertujuan mengeksplorasi dan mengeksploitasi kelemahan lawan, maka itu termasuk dalam negative campaign atau mencari-cari kelemahan lawan.

“Dikatakan black campaign, mana kala itu fitnah. Sesuatu yang tidak ada, kemudian diada-adakan. Dan black campaign itu cenderung fitnah. Sesuatu itu tidak benar adanya, tetapi diada-adakan,” tuturnya.

Lutfi sendiri tidak ingin mengomentari lebih jauh soal keabsahan atau tidaknya ijazah yang digunakan Mahyunadi. Menurutnya, itu menjadi ranah Dinas Pendidikan atau kepolisian. Namun yang pasti, apabila ijazah yang digunakan Mahyunadi adalah asli, maka isu yang dihembuskan saat ini adalah bagian dari black campaign.

“Dalam persaingan politik, politik cenderung menganut politik Harold Lasswell, who gets what, when and how. Siapa memperoleh apa, kapan dan bagaimana. Bagaimananya itu, kemudian ditafsir oleh sebagian orang bisa menggunakan segala cara, salah satunya black campaign,” jelasnya.

Hal terpenting yang harus dicatat menurut Lutfi, seperti halnya isu ijazah palsu yang dilakukan Bakal Calon Bupati Kutim Mahyunadi, bisa jadi adalah langkah yang diambil pasangan calon (paslon) tertentu karena merasa mulai kehabisan isu positif untuk diangkat.

“Dalam proses pertarungan, seluruh sumber daya akan dikerahkan. Nah, ketika sumber daya yang positif sudah mulai habis, maka kemungkinan memunculkan yang negatif, bahkan sumber daya yang nol atau tidak ada (itu bisa dilakukan). Dan ini biasa dilakukan, namun tidak wajar,” paparnya.

Namun demikian, Lutfi meyakini, bahwa isu-isu black campaign atau negatif campaign di masa-masa pilkada sudah menjadi konsumsi biasa. Masyarakat saat ini menurutnya sudah jauh lebih melek politik dan banyak memahami isu-isu black campaign.

“Sebagian masyarakat sudah terbiasa dengan isu-isu seperti itu dan mulai memahami, kalau cara yang demikian biasa dilakukan menjelang kompetisi politik,” sebutnya.

Terakhir, Lutfi mengingatkan, kalau persaingan di level pilkada ini sangat kompetitif. Karena pesertanya terbatas. Pemilahan masyarakat lebih kelihatan. Sehingga isu-isu black campaign biasanya dimunculkan untuk menjegal lawan.

“Cara-cara seperti itu sebenarnya sudah tidak terlalu efektif (jika ingin menjegal lawan). Masyarakat sudah bisa berpikir secara cerdas. Masyarakat mulai meningkat kecerdasan politiknya,” tandasnya. (*)

Penulis: Tim Redaksi Akurasi.id
Editor: Dirhanuddin

TAGGED:Isu Ijazah PalsuIsu PolitikMahyunadiPilkada Kutimpilkada serentak 2020
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fast Four Quiz: Precision Medicine in Cancer

How much do you know about precision medicine in cancer? Test your knowledge with this quick quiz.
Get Started
Denada Minta Maaf ke Iwa K dan Teuku Ryan, Tegaskan Bukan Ayah Kandung Ressa Rizky

Akurasi.id - Penyanyi dan aktris Denada akhirnya angkat bicara mengenai spekulasi publik…

Jelang Menikah dengan El Rumi, Syifa Hadju Gelar Bridal Lunch Bersama Bridesmaids

Akurasi.id - Aktris muda Syifa Hadju menggelar acara bridal lunch bersama para…

Harga Emas Antam Sepekan Naik Rp29.000, Kini Tembus Rp2,86 Juta per Gram

Akurasi.id - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Prabowo Diingatkan untuk Hati-Hati dalam Memilih Calon Menteri yang Bersih dari Korupsi
HeadlineKabar Politik

Prabowo Diingatkan untuk Hati-Hati dalam Memilih Calon Menteri yang Bersih dari Korupsi

By
Wili Wili
Menkeu Purbaya Tegur BPJS Kesehatan soal PBI JKN Dinonaktifkan Mendadak
HeadlineKabar Politik

Menkeu Purbaya Tegur BPJS Kesehatan soal PBI JKN Dinonaktifkan Mendadak

By
Wili Wili
Gerindra Ungkap Prabowo Ingin Bentuk Kabinet Zaken, Fokus Pada Keahlian Menteri
HeadlineKabar Politik

Gerindra Ungkap Prabowo Ingin Bentuk Kabinet Zaken, Fokus Pada Keahlian Menteri

By
Wili Wili
Banyak Makan Korban, DPRD Bontang Pastikan Penangkaran Buaya Bukan Wacana
Kabar Politik

Banyak Makan Korban, DPRD Bontang Pastikan Penangkaran Buaya Bukan Wacana

By
Devi Nila Sari
Akurasi.id adalah tagline dari suku kata Aktual dan Menginspirasi. Dua kata itu dipilih bukan tanpa alasan. Kami menyadari perkembangan teknologi informasi memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Khususnya, berbagai informasi yang disajikan media daring.

Tuntutan kecepatan informasi acap membuat pelaku media daring melupakan kedalaman dan ketajaman berita yang disajikan di publik. Tak pelak, informasi yang disuguhkan sangat dangkal. Seolah hanya memenuhi dahaga pembaca. Tidak menyajikan analisa dan intisari informasi.
  • Kategori Populer:
  • Trending
  • Uncategorized
  • Headline
  • Kabar Politik
  • Peristiwa
  • News
  • Birokrasi
  • Hukum & Kriminal
  • Covid-19
  • Ragam
About Company
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© Copyright Akurasi.id 2019 – 2025, All Rights Reserved
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?