Kabar Politik

Gubernur Kaltim Larang Belajar Tatap Muka, Komisi I DPRD Bontang Usul Belajar dengan Sistem Sif

Loading

Gubernur Kaltim Larang Belajar Tatap Muka, Komisi I DPRD Bontang Usul Belajar dengan Sistem Sif
Anggota Komisi I DPRD Bontang, Abdul Haris. (Rezki Jaya/Akurasi.id)

Gubernur Kaltim larang belajar tatap muka, Komisi I DPRD Bontang usul belajar dengan sistem sif. Wacana pembelajaran tatap muka masih jadi perdebatan.

Akurasi.id, Bontang – Belum lama ini, Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Isran Noor melarang pembelajaran tatap muka di sekolah. Hal itu karena tingkat penularan Covid-19 di Kaltim masih tinggi. Isran mengaku tak mau ambil risiko.

“Selama pandemi Covid-19 ini saya minta jangan dulu lakukan aktivitas tatap muka. Karena, kita harus pentingkan kesehatan. Kesehatan adalah yang utama,” ungkap Isran melalui keterangan pers dari Humas Biro Setprov Kaltim beberapa waktu lalu.

Meski demikian, Isran menyadari ada rencana pemerintah pusat memulai pembelajaran tatap muka Juli 2021 mendatang.

Jasa SMK3 dan ISO

“Jadi, saya minta di Kaltim jangan dulu melakukan tatap muka. Sampai kondisinya betul-betul aman,” Lanjutnya.

Menanggapi pernyataan Gubernur Kaltim, Anggota Komisi I DPRD Bontang Abdul Haris menyebutkan, sebelum melakukan pembelajaran tatap muka (PTM), agar dilakukan pemetaan terlebih dahulu sesuai dengan kondisi zona penyebaran Covid-19.

“Kita lihat terlebih dahulu kondisi Covid-19 di Bontang, jika memungkinkan baru kita adakan PTM tersebut,” Kata Abdul Haris Saat ditemui Awak Media, Rabu (28/4/2021).

Politisi partai PKB itu pun menjelaskan semua sekolah diberikan kesempatan untuk melakukan PTM. Tentu dengan prosedur protokol kesehatan diberlakukan setiap sekolah. Apabila melanggar, hendaknya diberikan peringatan dengan mencabut kewenangan PTM tersebut.

“Saya kira diberikan kesempatan untuk melakukan PTM, dilakukan dengan protokol kesehatan jika melanggar akan dicabut,” ucap Abdul Haris.

Kendati demikian, pria yang juga mantan kepala sekolah ini berharap PTM hendaknya bisa menjadi upaya bagi siswa agar dapat menuntut ilmu dengan memastikan tetap dalam kondisi sehat.

Ia bahkan memberi solusi jika pihak sekolah khawatir akan terjadi kerumunan siswa selama proses belajar mengajar PTM terjadi. Menurutnya sekolah bisa menggunakan sistem sif.

“Bisa dilakukan PTM dengan sistem sif di sekolah, semisal ada 30 siswa dalam kelas, setidaknya 15 siswa masuk di waktu pagi dan sisanya pada siang hari. Tentu kami adakan PTM ini menyesuaikan dengan keadaan daerah,” pungkasnya. (*)

 

Penulis: Rezki Jaya

Editor: Rachman Wahid

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Back to top button