
![]()
Siklus bisnis CPO tampaknya sedang kurang stabil. Pasalnya, dalam beberapa pekan belakangan, harga jual CPO lagi kurang stabil. Bahkan, harga jual CPO setiap pekannya nyaris jatuh 2% persen.
Akurasi.id, Jakarta – Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) melemah pada perdagangan minggu ini. Biaya tenaga kerja melambung membebani produsen CPO di tengah lonjakan harga energi. Namun, konflik antara Rusia dan Ukraina mampu menopang harga CPO untuk tidak turun lebih dalam lagi.
Pada Jumat (24/4/2022) harga CPO untuk kontrak pengiriman 3 bulan tercatat MYR 6.355/ton. Secara mingguan, pencapaian ini turun 1,75% dibandingkan dengan pekan lalu.
Menyambut pekan ketiga bulan April, harga CPO turun tipis 0,08% ke MYR 6.463/ton. Kinerja ekspor CPO Malaysia, salah satu produsen utama dunia, melemah pada 2 pekan perdagangan awal bulan April. Pada periode 1-15 April 2022 anjlok 13,9% ke 495.096 ton dari 574.893 ton di periode 1-15 Maret 2022.
Di sisi lain, krisis tenaga kerja asing di perkebunan sawit melanda Malaysia. Asosiasi Pemilik Perkebunan Kelapa Sawit Sarawak (SOPPOA) mendesak pemerintah Malaysia untuk mengizinkan perekrutan tenaga kerja selain dari Indonesia.
Asal tahu saja, tenaga kerja asing mencapai 80% dari total tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit. Karena penduduk setempat tidak tertarik dengan pekerjaan perkebunan. Sehingga industri kelapa sawit sangat bergantung pada tenaga kerja asing.
Krisis tenaga kerja asing menyebabkan lonjakan upah pekerja di kebun sawit. Hal ini membebani produsen CPO di Malaysia. Hal tersebut juga dapat menjadi sentimen negatif pada pasar minyak nabati, karena Malaysia di ketahui sebagai salah satu pemasok terbesar minyak CPO dunia.
Harga CPO pada hari Rabu (20/4/2022) pun di tutup anjlok 2,4% dari posisi di hari sebelumnya, membebani kinerja CPO selama sepekan. Meskipun di hari perdagangan berikutnya harga CPO mulai kembali bangkit.
Harga Jual CPO Sedikit Membaik Lantaran Naiknya Permintaan dari India
Harga CPO pada hari Kamis (21/4/2022) menguat tipis 0,08% membawa minyak nabati ini ke level MYR 6.313/ton. Penguatan harga di lanjutkan pada Jumat (22/4/2022), naik 0,67% menjadi MYR 6.335/ton.
Penyebabnya adalah permintaan minyak sawit dari India pada bulan April kemungkinan akan meningkat menjadi lebih dari 600.000 ton dari 539.793 ton pada bulan Maret, dan pada bulan Mei volume impor dapat melebihi 650.000 ton.
Selain itu, pasokan minyak kedelai di Amerika Selatan terbatas karena cuaca ekstrem menyebabkan kekeringan dan perang Rusia-Ukraina telah menghentikan ekspor minyak biji bunga matahari. Sehingga, pembeli akan beralih ke minyak nabati alternatif.
Lantas bagaimana tren ke depan? Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, menilai harga CPO hari ini akan menguji titik resistancedi MYR 6.454/to, penembusan di atas titik resistance akan menyebabkan kenaikan ke titik target MYR 6.548/ton.
Namun, penembusan di bawah titiksupportdi MYR 5.260/ton akan menunjukkan kisaran targetbearishdi MYR 6.104-6.188/ton. (*)
Sumber: Cnbcindonesia.com
Editor: Redaksi Akurasi.id








