Corak

Survive di Tengah Pandemi, Usaha Percetakan Hampir Bangkrut

Loading

Survive di Tengah Pandemi, Usaha Percetakan Hampir Bangkrut
Survive di tengah pandemi, sangat memengaruhi pendapatan percetakan di Kota Bontang. (Rezki Jaya/Akurasi.id)

Survive di tengah pandemi, usaha percetakan hampir bangkrut. Namun belakangan ini, pasca diberlakukan adaptasi kebiasaan baru omset percetakan berangsur membaik.

Akurasi.id, Bontang – Corona virus disease (Covid-19) berdampak pada berbagai sektor. Salah satunya sektor perdagangan maupun jasa. Seperti usaha percetakan misalnya.

Baca juga: Obat Batuk Alami Untuk Anak, Cepat Redakan Batuk

Di Kota Taman –sebutan Bontang-, pengusaha percetakan juga merasakan dampak kerugian yang luar biasa sejak Covid-19 melanda sekira Maret 2020 lalu.

Jasa SMK3 dan ISO

Hal ini diakui Erwin, pengusaha muda sekaligus pemilik usaha percetakan Alpha komputer yang berada di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Berebas Tengah, Bontang Selatan.

Erwin menjelaskan selama pandemi yang melanda Bontang Maret lalu, sekolah harus diliburkan. Sedangkan perusahaan mulai memberlakukan karyawan kerja dari rumah (WFH).

Alhasil pendapatannya turun drastis hingga 90 persen. Bahkan Erwin menceritakan usahanya sempat hampir tutup karena tidak ada pengunjung.

“Awal mula pandemi Maret lalu, percetakan saya hampir tutup karena tidak ada pengunjung yang datang. Terlebih pada saat diliburkannya sekolah,” ucap Erwin saat ditemui Akurasi.id, belum lama ini.

Memasuki bulan suci ramadhan, Erwin menuturkan dirinya sama sekali tidak memiliki pendapatan. Padahal, biasanya saat bulan puasa pihaknya mendapatkan banyak orderan. Karena sepi, dia pun terpuruk. Mau tidak mau harus meliburkan karyawan.

“Yang sebelumnya saya memiliki 6 karyawan, akhirnya diliburkan 4 oranh dengan memberikan gaji 50 persen saja,” tuturnya.
Kemudian lanjut dia, saat Presiden Joko Widodo mengumumkan pemberlakuan status new normal, pendapatan percetakannya mulai membaik secara bertahap.

“Karena usaha saya ini lebih fokus ke percetakan undangan pernikahan, pada saat awal new normal mulai ada beberapa acara nikahan. Walaupun dibatasi hanya 50 sampai 100 undangan, setidaknya pelan-pelan pendapatan mulai naik,” jelas Erwin.

Lanjut dia, pada masa kampanye Pilkada Kota Bontang, ada beberapa pesanan dari kedua pasangan calon yakni berupa pembuatan masker dan stiker. Hal tersebut cukup membantu naiknya penghasilan usaha yang sudah berjalan 7 tahun tersebut.

“Omzet yang saya peroleh selama satu bulan sebelum pandemi Covid-19, bisa mencapai Rp50-60 juta per bulan. Sedangkan sekarang di masa new normal, sekitar Rp35-40 juta per bulan. Setidaknya sudah naik sebanyak 70 persen dibanding awal pandemi masuk di Kota Bontang,” ucapnya.

Senada, Soffie yang merupakan anak dari pemilik Percetakan Go Print yang beralamatkan di simpang 3 Kenari Waterpark, Jalan A Yani ini menjelaskan, usahanya yang mengalami penurunan drastis pada saat memasuki masa pandemi.

Meski dalam keadaan seperti itu, pihaknya terus bertahan dengan kondisi yang ada.
“Untuk pemasukan kami lebih banyak untuk pemesanan spanduk dari beberapa perusahaan lokal, sementara untuk umum terbilang tidak banyak. Tetapi pada saat memasuki masa pandemi, banyak pemesan yang menarik pesanan yang sebelum sudah dipesan, hal ini karena Bontang waktu itu lock down,” jelas Soffie.

Dia juga menjelaskan pada saat memasuki awal Desember, penghasilan baru perlahan mulai naik dan stabil.

“Untuk sekarang masih 50 persen penghasilan kami dari sebelum pandemi Covid-19, tentu saya berharap agar pandemi ini cepat berlalu, sehingga keadaan ekonomi Bontang kembali stabil,” pungkasnya. (*)

Penulis: Rezki Jaya
Editor: Suci Surya Dewi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Back to top button