
Akurasi.id, Bontang – Anak menjadi investasi akhirat bagi setiap orangtua. Karenanya, mendidik anak agar menjadi pribadi yang soleh dan salihah menjadi sebuah kewajiban bagi setiap orangtua. Sebab, mereka kelak akan menjadi pembuka pintu surga bagi para orangtuanya. Hal itu pun yang diingatkan Ustaz Wijayanto saat hadir pada acara tablig akbar di Pondok Pesantren (Ponpes) Subulana, Bontang.
baca juga: Jalan Santai Bersama Warga, Mahyunadi Rangkum Aspirasi Sebagai Wakil Rakyat
Ustaz Wijayanto: Coba lihat ke atas! Tenda warnanya apa?
Jemaah: Putiiiih.
Ustaz: Susu warnanya apa?
Jemaah: Putiiiih.
Ustaz: Gigi warnanya apaa?
Jemaah: Putiih.
Ustaz: Sapi minumnya apaa?
Jemaah: Susu..airrr..susuu…aiirrr.
Ustaz: Hayoo yang bener yang manaa? Masa sapi minumnya susu. Sapi ya minumnya air.
Ustaz: Begitulah orang, selalu memiliki asas keterpengaruhan. Tergantung bagaimana pemimpinnya. Pemimpinnya salah pengikutnya pun bisa ikut salah.
Potongan percakapan di atas merupakan dialog antara dai kondang asal Yogyakarta, Ustaz Wijayanto dengan jemaah yang hadir di Pondok Pesantren (Ponpes) Subulana, Sabtu (29/2/20), pukul 09.00 Wita. Dosen di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, ini memang kerap menyelipkan joke-joke cerdas di setiap tausiahnya. Seperti penggalan dialog di atas. Tujuannya, selain untuk menghibur juga mengajak jemaah berpikir terkait materi yang ia sampaikan.
Dai kondang yang sering menjadi bintang tamu di acara televisi ‘Hitam Putih’ itu hadir di Bontang untuk mengisi rangkaian tablig akbar di Kota Taman -sebutan Kota Bontang. Sebelumnya, Ustaz Wijayanto telah berbicara di beberapa masjid seperti Masjid Baiturahman dan Masjid Fathul Khoir, di Perumahan Bukit Sekatup Damai (BSD). Di ponpes yang berlokasi di Kelurahan Bontang Lestari ini, Ustaz Wijayanto menyampaikan pentingnya mencetak anak saleh.
Menyambung dialog di atas, dai bernama lengkap Ahmad Wijayanto itu kembali mengingatkan, mencetak anak saleh itu tergantung bagaimana orangtuanya. Tidak mungkin anak bisa menjadi saleh apabila orangtua tidak saleh terlebih dahulu. Dengan salehnya orangtua, maka akan menjadi teladan bagi anak-anak.
“Anak itu investasi di dunia dan akhirat bagi orang tuanya. Karenanya jangan remehkan pendidikan anak,” ujarnya.
Saat ini harapan sebagai orangtua dalam mendidik anak hanya dari pendidikan agama. Pesantren menjadi salah satu tempat terbaik untuk mendidik anak selain di dalam keluarganya.
“Di pesantren anak-anak dibekali dengan akhlak dan ilmu agama. Yang dapat menjadi bekal bagi dirinya setelah dewasa kelak,” ungkapnya.
Selain pendidikan, hubungan antara anak dan orangtua pun juga perlu diperhatikan. Orangtua rela melakukan apa saja demi anaknya. Menyedot ingus anaknya yang sedang sakit pun orangtua rela.
“Apa ada anak yang mau menyedot ingus orangtuanya di kala sakit?” tegasnya.
Tetapi bagaimana perlakuan anak kepada orangtua. Seorang anak yang tidak dididik dengan baik, tentu dewasanya tidak memiliki akhlak yang baik kepada orangtua. “Hati-hati Bapak dan Ibu! Kalau anak durhaka kepada orangtuanya, semua amal salihnya akan hangus,” pesannya jelas.
Ia menekankan, penting sekali mendidik anak-anak agar menjadi saleh dan salihah. Seorang anak yang saleh akan dapat memakaikan mahkota kepada orangtuanya di akhirat kelak. Anak saleh juga dapat memasukkan anaknya ke dalam surga.

“Jangan tanggung-tanggung, mulai sekarang berinvestasilah untuk pendidikan anak-anak. Kalau merasa kurang bisa mendidik, masukkan anak ke pesantren!” imbuhnya.
Menutup tausiahnya di ponpes asuhan KH Ahmad Syarin Thoriq, Ustaz Wijayanto melantunkan dua bait pantun. Sekaligus menutup rangkaian tablig akbar di Kota Taman.
“Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi”. “Kalau ada umur yang panjang boleh kita bertemu lagi”. “Kalau ada jarum yang patah jangan disimpan dalam peti”. “Kalau ada kata yang salah jangan disimpan dalam hati”. “Sekian dan wassalamualaikum.” (*)
Penulis: Yusva Alam
Editor: Dirhanuddin
