Menyulam Prestasi dalam Keterbatasan, Skateboarding Bontang Mengais Mimpi ke Kanca Nasional

![]()

Akurasi.id, Bontang – Tatapan Muhammad Taqwien begitu lekat. Di tangan kanannya, dia tampak mengengam erat ujung sebuah papan peluncur. Sejurut kemudian, papan berukuran antara 7,5 hingga 85 inci itu, dia benturkannya di atas arena. Kaki kanannya kemudian berpijak di atas papan tersebut.
baca juga: Petik 1 Emas 5 Perak, 2 Perunggu, Kempo Kaltim Tempati 3 Besar Juara Umum Pra PON Kempo 2019
Dengan penuh keyakinan, dia mendorong perlahan papan beroda empat itu. Pelan tapi pasti, kaki kirinya terus mendorong papan beroda itu dengan kecepatan tinggi. Selintas, Taqwien kemudian meloncati sebuah lunch table atau panggung kecil yang memiliki panjang sekitar 1,2 meter dengan papan peluncur yang sedang dia naiki.
Hanya bilangan detik, Taqwien meluncur lincah dengan pinggiran skateboard miliknya yang menempel di pinggiran lunch table. Selepas melakukan pendaratan, tepuk tangan dari kawan sejawat dan sepermainan pun mengiringi keberhasilan pria berbadan ceking itu menjaga keseimbangan dengan papan seluncurnya di atas lunch table.
Seperti pada pekan yang sudah-sudah, Taqwien dan sesama para pecinta skateboard tidak pernah melewatkan akhir pekan tanpa mengasah kemampuan bermain papan peluncur di sejumlah obstacle seperti rail dan box skatepark Lapangan Bessai Berinta, Jalan KS Tubun, Bontang Utara, Kota Bontang.
Taqwien adalah satu dari sekian banyak pecinta olahraga skateboard di Kota Taman –sebutan Bontang. Bersama rekan pengemar olahraga papan peluncur, Taqwien tergabung dalam Komunitas Indonesia Skateboard (KIS) Kota Bontang. Komunitas ini merupakan wadah para pecinta skateboard di Kota Taman.
Disela berlatih skateboard, Taqwien berbagi cerita kepada media ini. Dia menuturkan, olahraga skateboard sedianya bukan barang baru bagi anak muda di Bontang. Sejak 2006 lalu, permainan yang syarat akan olahraga ekstrem ini, telah mulai dimainkan di Kota Taman. Sadar akan animo anak muda yang begitu besar akan olahraga itu, Taqwien bersama para pecinta skateboard lain senada mendirikan KIS Bontang.
Pada usia yang telah menginjak 13 tahun, setidaknya sudah terdapat sekitar 50 orang anggota yang tergabung dalam KIS Bontang. Mereka yang tergabung di komunitas itu tidak hanya para remaja, tetapi juga orang dewasa. Beberapa di antaranya bahkan ada yang sudah berkeluarga.
“Pada awal-awal terbentuk, anggota yang tergabung di komunitas ini baru sekitar 10-11 orang saja. Dulu ada 2 tim berbeda, everyday skateboard dan privaters. Tetapi seiring waktu, mereka yang bermain skateboard juga makin banyak dan terus bertambah,” tuturnya.
Dalam obrolan santai di tepi skatepark itu, Taqwien berkisah, keterbatasan sarana olahraga yang dimiliki Kota Bontang, tidak memupus mimpi dan semangat mereka untuk terus memperkenalkan skateboard. Seolah tidak habis akal, Taqwien dan kawan-kawannya mencoba memanfaatkan berbagai infrastruktur kota yang tersedia untuk wadah bermain.
Tidak jarang, beberapa di antara lokasi bangunan yang tidak termanfaatkan di sekitar Tanjung Laut diberdayakan anggota KIS Bontang sebagai arena street. Untuk mencari suasana baru, tim Everyday Skateboard dan Privaters juga memanfaatkan kompleks Perumahan HOP PT Badak, area Gedung Olahraga PKT sebagai wadah berlatih.
Mulai Dilirik Pemkot Bontang

Konsisten Taqwien dan sesama pecinta olahraga skateboard perlahan mulai dilirik oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang. Jumlah komunitas yang kian bertambah, belum adanya sarana olahraga khusus skateboard, membuat pemerintah kemudian membangun fasilitas skatepark di Lapangan Bessai Berinta.
“Awalnya, banyak teman-teman di skateboard ini yang main sampai di jalanan, ada juga yang ke arena taman yang dimiliki perusahaan. Mungkin karena itu, pemerintah akhirnya membangunkan skatepark. Ditambah karena memang mereka yang main skateboard juga makin banyak,” cakapnya.
Hal senada juga disampaikan pemain skateboarder lain, Idhul Adha. Pada awal-awal terbentuknya komunitas skateboard, hampir semua fasilitas yang memungkinkan untuk berlatih diamanfaat para pemain. Misalnya saja di kantor Kecamatan Bontang Selatan hingga di Simpang Tanjung Laut.
Pada masa-masa awal itu, komunitas skateboard terpecah jadi dua tim. Namun seiring waktu berjalan, tim Everyday Skateboard dan Privaters pun menyadari pentingnya membentuk komunitas yang lebih besar lagi sebagai wadah bagi mereka yang ingin belajar bermain skateboard.
“Setelah main sering main bersama, maka disepakatilah membentuk Komunitas Indonesia Skateboard Bontang,” ujar pria yang karib disapa Idhul ini sembari mengenang masa-masa awal terbentuknya komunitas skateboard di Kota Taman beberapa tahun lalu.
Jadikan Cabang Olahraga Profesional

Keberadaan skateboarding di Bontang tidak hanya menjadi permainan untuk mengisi waktu luang. Tetapi seiring dengan waktu yang berjalan, keberadaan permainan skateboard mulai dilirik bahkan dikembangkan menjadi bagian cabang olahraga profesional oleh mereka yang tergabung dalam KIS Bontang.
Langkah awal yang diambil KIS Bontang adalah menunjukkan kemampuan pada berbagai event dan kompetisi, baik yang digelar di internal komunitas maupun di luar itu. Bahkan setiap tahunnya, para skateboard Bontang menggelar selebrasi bertajuk “Skateboarding Day”. Acara itu digelar setiap 21 Juni.

Muhammad Taqwien bercerita, di awal terbentuknya komunitas skateboard, beberapa event berskala besar seperti Nickle Stone pada 2011 dan Green Fest pada 2013 pernah digelar. Kedua event itu menjadi wadah bagi para skateboard untuk unjuk gigi dan wadah berkompetisi.
“Untuk sementara ini sih, event besar (dan berskala provinsi atau nasional) belum ada lagi. Kami mesti melihat lagi kondisi skatepark-nya,” kata dia.
Selayaknya kata bijak, setiap usaha dan kerja keras tidak akan pernah menghianati hasil. Begitu juga dengan konsistensi yang dimiliki KIS Bontang. Keberadaan mereka saat ini telah mendapatkan pengakuan dari pengurus KIS Pusat. Itu dibuktikan dengan adanya pencapaian dan prestasi dalam berbagai kompetisi besar.
Bahkan salah satu skaters Bontang bernama Sultan, berhasil menorehkan namanya pada papan 10 besar saat mengikuti kompetisi Indonesia Skateboard Asociation (ISA) yang dihelat di kota Samarinda pada 2007 silam. Pada kompetisi Green Fest 2013 se-Kaltim yang digelar di Bontang, Sultan juga keluar sebagai juara tiga.
“Sultan ini memang paling mencolok skill-nya,” ucap Taqwien.
Diakui dia, semangat skateboarding yang begitu besar dirasakannya sedikit timpang dengan dukungan yang didapatkan mereka. Misalnya saja, ketika ada kejuaraan di luar daerah, pemerintah dirasakannya masih belum begitu signifikan. Bahkan terkadang respons pemerintah masih sangat lambat dalam memberikan bantuan atau dukungan.
“Itulah sulitnya, sampai sekarang ini sih tidak ada dukungan, lebih banyak individu. Ya, pokoknya mandiri lah dari temen pengusaha yang memang udah sering bantu sih. Sama juga kalau mengadakan event, belum ada sentuhan langsung dari pemerintah,” imbuhnya. (*)
Penulis: Muhammad Fachmi Syafa
Editor: Dirhanuddin









